Taman Balekambang Solo Belum Akan Dibuka, Wali Kota: Terlalu Berisiko

oleh -800 views

SOLO – Tidak semua objek wisata yang dikelola pemkot segera dibuka selama penerapan new normal. Salah satunya Taman Balekambang. Pertimbangannya, terlalu berisiko. Mengingat jumlah pengunjung objek wisata ini terbanyak kedua se-Jateng.

“Taman Balekambang kan wisata rekreasi keluarga. Suguhan utamanya ya memang ruang terbuka hijau untuk (dinikmati) para pengunjungnnya. Terlalu berisiko kalau tetap dibuka,” kata Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo, kemarin. 

“Kalau TSTJ (Taman Satwa Taru Jurug) kan jelas lembaga konservasi. Pengunjung yang datang untuk melihat satwa. Kalau di Taman Balekambang sedikit beda model wisatanya, makanya masih kami tutup,” imbuhnya. 

Menurut Rudy, destinasi wisata yang boleh kembali beroperasi adalah pariwisata edukatif. Seperti museum dan lain sebagainya. Pertimbangan ini mengingat tingkat kunjungan wisatawan ke museum tidak terlalu banyak, sehingga mudah diatur guna memaksimalkan penerapan protokol kesehatan. 

“100 pengunjung untuk satu museum dalam sehari itu sudah banyak. Makanya museum boleh buka lagi. Tapi tentu ada pembatasan-pembatasan yang juga diterapkan,” papar Rudy.

Selama ini, Taman Balekambang menjadi jujukan wisata yang murah meriah. Tingakt kunjungan ketika akhir pekan dan hari libur rata-rata sebanyak 5.000 pengunjung. Jumlah tersebut meningkat menjadi 6.000 orang per hari pada libur akhir tahun. 

“Kalau hari biasa memang tidak begitu banyak. Tapi di akhir pekan sangat tinggi. Sementara ini imbauanya masih ditutup. Tapi perawatan dan lainnya masih jalan seperti biasa,” jelas Kepala UPT Balekambang Sumeh.

Objek wisata di pusat Kota Bengawan ini tutup sejak diberlakukannya status kejadian luara biasa (KLB) pertengahan Maret lalu. Selain menyuguhkan ruang terbuka hijau, di sana juga terdapat sejumlah satwa, seperti rusa, kera, burung, reptil, dan lainnya. Selama ditutup, pengelola mengaku, kebutuhan pakan untuk sejumlah satwa meningkat.

Jika biasanya biaya operasional Rp 100 ribu per hari, ditambah 1 kilogram (kg) jagung, 1 kg bekatul, dan 1 kg pellet, bertambah menjadi Rp 200 ribu per hari dengan 2 kg jagung, 2 kg bekatul, serta 2 kg pelet. 

“Sepertinya selama tutup, satwa-sawa yang ada di sini jadi mudah lapar. Walau naik, kebutuhan pakan tetap cukup, malah lebih. Karena beberapa komunitas kadang juga menyumbang pakan ke sini,” pungkas Sumeh. (ves/wa/ria)

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *