Simbol Kesetaraan, Ini 5 Fakta Sejarah Penggunaan Bahasa Jawa Ngapak

oleh -80 views

Simbol Kesetaraan, Ini 5 Fakta Sejarah Penggunaan Bahasa Jawa Ngapak
Sejarah Bahasa Ngapak. ©jatengprov.go.id

Merdeka.com – Bahasa Ngapak atau Bahasa Jawa Banyumasan memiliki tutur bahasa Jawa yang berbeda dari daerah lain. Bahasa ini digunakan oleh masyarakat yang tinggal di eks-karesidenan Banyumas yang dulunya melingkupi wilayah Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara.

Namun tak hanya di wilayah Kabupaten Banyumas, pada nyatanya Bahasa Ngapak juga banyak digunakan di berbagai wilayah di Provinsi Jawa Tengah. Dilansir dari Uinjkt.ac.id, penggunaan dialek ini ditemukan pada daerah Jawa Tengah bagian barat. Selain itu di luar Jawa Tengah, dialek itu juga bisa ditemukan di wilayah Cirebon dan Banten Utara.

Penggunaan dialek ini tak bisa lepas dari faktor politik pada masa Kerajaan Mataram. Pada waktu itu, kerajaan itu menerapkan pendisiplinan mulai dari tutur kata, perilaku, hingga busana sesuai tingkatan sosial di tengah masyarakat.

1 dari 5 halaman

Awal Mula Kemunculan Bahasa Ngapak

sejarah bahasa ngapak

©Kelaspoliglot.net

Dilansir dari Newswantara.com, kemunculan bahasa Ngapak tak lepas dari keberadaan Kerajaan Galuh Purba yang menjadi cikal bakal kerajaan lain di Jawa. Dulunya, kerajaan ini memiliki wilayah yang cukup luas meliputi Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Bumiayu, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Kedu, Kebumen, hingga Purwodadi.

Walaupun pada akhirnya terpecah menjadi Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah dan Galuh di Jawa Barat, namun hubungan keduanya terjalin baik dengan adanya perkawinan antar kerajaan.

Dari keturunan Kerajaan Galuh Purba inilah muncul dialek bahasa Jawa Kulon yang meliputi Sub Dialek Banten Lor, Sub Dialek Cirebon, Sub Dialek Banyumasan, dan Sub Dialek Bumiayu. Dialek-dialek itulah yang kemudian dikenal dengan Bahasa Ngapak.

2 dari 5 halaman

Bahasa Jawa Asli

Dilansir dari Goodnewsfromindonesia.id, bahasa Ngapak disebut sebagai bahasa Jawa asli. Menurut pengamat budaya Heru Satoto, Bahasa Jawa yang digunakan di daerah Solo dan Jogja merupakan bahasa Jawa baku yang telah mengalami lima tahap perkembangan sejarah. 

Sementara itu, bahasa Ngapak disebut sebagai bahasa Jawa tahap awal atau Jawadwipa. Bahasa ini disebut sebagai bahasa murni orang Jawa.

3 dari 5 halaman

Dipengaruhi oleh Faktor Politik

kraton jogja dan solo

©2019 Merdeka.com/Shutterstock

Penggunaan Bahasa Jawa Ngapak sebenarnya juga tak lepas dari pengaruh politik Kerajaan Mataram pada saat itu. Pada waktu kekuasaan Mataram, kerajaan saat itu menerapkan pendisiplinan salah satunya soal tutur kata. Maka dari itulah muncul tingkatan bahasa seperti “kromo alus”, “kromo lugu”, dan “ngoko”.

Sementara itu wilayah Ngapak jauh dari pusat pemerintahan Kerajaan Mataram. Maka dari itu wilayah tersebut tidak begitu terpengaruh aturan tingkatan bahasa. Hal inilah yang membuat masyarakat di sana menggunakan bahasa Jawa tanpa menggunakan tingkatan unggah-ungguh yang telah dikeluarkan pihak kerajaan.

4 dari 5 halaman

Perbedaan Bahasa Jawa Ngapak dengan Bahasa Jawa Baku

sejarah bahasa ngapak

©Kelaspoliglot.net

Dilansir dari Uinjkt.ac.id, ada dua hal yang membedakan bahasa Jawa Ngapak dengan Bahasa Jawa bagian timur. Salah satunya akhiran ‘a’ tetap diucap ‘a’, berbeda dengan bahasa Jawa baku yang diucap ‘o’.

Selain itu kata-kata yang berakhiran huruf mati dilafalkan dengan nada penuh, artinya ada penekanan tersendiri terhadap akhir dari huruf konsonan pada kata. Hal inilah yang membuat bahasa Ngapak diidentikkan dengan bahasa “medhok”.   

5 dari 5 halaman

Simbol Kesetaran

sejarah bahasa ngapak

©jatengprov.go.id

Berbeda dengan bahasa Jawa baku yang terdiri dari beberapa tingkatan, bahasa Ngapak cenderung “blak-blakan” dan tidak memedulikan status sosial. Mereka menganggap golongan priyayi sama saja dengan orang biasa.

Dilansir dari Uinjkt.ac.id, ilmuwan bahasa Suhardi melihat bahasa Ngapak menyimbolkan kesederhanaan dan kelugasan orang Banyumas. Selain itu penggunaan bahasa ini menjadi benteng terakhir dari identitas budaya Banyumas di tengah perubahan dan kemajuan masyarakat.

Budaya yang mengedepankan kesetaraan itulah yang membuat kekuatan solidaritas dan kerukunan terjalin pada masyarakat Banyumas.

[shr]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *