Pertamina seimbangkan pengembangan ekosistem energi fosil dan terbarukan

oleh -571 views

ILUSTRASI. Pertamina. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama/18

Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pertamina (Persero) berkomitmen agar ekosistem energi yang berbasis fosil dan energi baru terbarukan (EBT) dapat berkembang secara seimbang. Hal itu tertuang di dalam peta jalan (roadmap) jangka panjang holding perusahaan minyak dan gas (migas) plat merah tersebut.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menyampaikan, sejalan dengan proyek migas yang dikerjakan dari hulu hingga hilir, Pertamina juga fokus untuk mengembangkan proyek berbasis energi hijau. Selain untuk keberlanjutan, proyek tersebut strategis bagi optimalisasi nilai aset dan berlimpahnya sumber daya yang ada di Indonesia.

Baca Juga: Antisipasi penyebaran virus corona, karyawan Pertamina Group masuk kantor bertahap

“Di dalam roadmap jangka panjang Pertamina, direncanakan dan diimplementasikan keseimbangan ekosistem fosil dan EBT. Dalam hal ini, Pertamina juga harus mempertimbangkan berbagai aspek, diantaranya memaksimalkan value dari aset dan resources yang berlimpah di Indonesia sambil terus mengoptimalkan upaya-upaya green transformation,” terang Fajriyah saat dihubungi Kontan.co.id, akhir pekan kemarin.

Salah satu jenis energi terbarukan yang sudah lama dikembangkan Pertamina adalah panas bumi, yang potensinya melimpah di Indonesia. Menurut Fajriyah, dalam 13 tahun terakhir Pertamina terus bergerak meningkatkan produksi listrik dari panas bumi yang saat ada di 14 wilayah kerja, dengan total kapasitas terpasang telah mencapai 1.877 Megawatt (MW).

Selain itu, Pertamina juga mengembangkan panel surya atau solar PV di sejumlah fasilitasnya, seperti di Cilacap dan Bontang. Dalam pemanfaatan energi berkelanjutan, Pertamina dengan sinergi BUMN lainnya sedang mengembangkan baterai electric vehicle (EV).

Terkait dengan produk Bahan Bakar Minyak (BBM), beberapa proyek masih dijalankan Pertamina untuk menghasilkan BBM yang lebih ramah lingkungan. Seperti pembangunan bahan bakar hijau (Green Diesel) di Cilacap dan Green Refinery di Plaju. “Selain itu Pertamina juga berkomitmen untuk pemanfaatan biodiesel sesuai dengan arahan pemerintah untuk penerapan B30,” sebut Fajriyah.

Baca Juga: Segera dibangun, Pertagas sosialisasi proyek pipa gas BOB Siak senilai US$ 9,7 juta

Dia bilang, salah satu target dalam pengembangan kilang Pertamina ialah perubahan spesifikasi BBM yang lebih berkualitas. Yakni dari standar Euro 2 menjadi Euro 5. Salah satu yang sudah terealisasi adalah Proyek Langit Biru Cilacap yang mampu menghasilkan produk BBM dengan standar kualitas Euro 4.

Program-program energi berkelanjutan ini, imbuh Fajriyah, diproyeksikan dapat menurunkan tingkat emisi yang cukup signifikan. “Program perubahan spesifikasi tersebut bersama dengan biofuel blending serta pengembangan batere dan solar PV berpotensi menurunkan emisi sampai 27%,” ujarnya.

Upaya yang terus dijalankan Pertamina saat ini, kata Fajriyah, ialah untuk mendorong masyarakat agar dapat beralih menggunakan BBM yang lebih ramah lingkungan, seperti Pertamax Series. “Ini penting, sehingga efek dari BBM yang lebih ramah lingkungan benar terealisasi dan dapat berpengaruh positif terhadap lingkungan,” pungkasnya.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *