Penganugerahan Kariadi Pahlawan Nasional, Pengusul Minta Dukungan Gubernur

oleh -1 views

  • Minggu, 30 Agustus 2020 | 09:55 WIB
  • Penulis:

SEMARANG, suaramerdeka.com – Penganugerahan dokter Kariadi jadi pahlawan nasional sedang digodok di tingkat pemerintahan pusat. Tim pengusul berharap dukungan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo bisa bantu mewujudkan gelar pahlawan bagi dokter Kariadi. Berkas usulan sudah disampaikan ke Kementerian Sosial, dan diserahkan ke Dewan Gelar dengan pimpinan Menkopolhukam. Salah satu pengusul, Atyoso Mochtar berpandangan, dokter Kariadi telah berkontribusi besar terhadap penegakan kedaultan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman penjajahan bangsa.

Pengabdian dan perjuangannya mengorbankan jiwa dan raga, hingga gugur dalam perang kemerdekaan. Gugurnya Kariadi memicu pertempuran lima hari di Semarang, pada 15-19 Oktober 1945. “Perjuangan dokter Kariadi perlu diapresiasi bangsa dan negara, sehingga kami mengusulkan pemerintah memberi anugerah pahlawan nasional. Apalagi, Kariadi memenuhi persyaratan diangkat sebagai pahlawan nasional sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Kehormatan,” jelas Atyoso, putra mantan Gubernur Jateng alm Mochtar yang juga jadi narasumber seminar nasional dokter Kariadi di Semarang.

Seminar nasinal digelar Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jateng bersama Fakultas Ilmu Sosial, Unnes serta menghadirkan narasumber lain. Yakni, sejarawan Prof Dr Wasino dari Unnes, serta dua guru besar Unpad Bandung, Prof Dr Nina Herlina dan Prof Dr dr Sri Hartini Kariadi, putri ketiga dokter Kariadi, yang juga meninggal dunia, baru-baru ini. Atyoso yang juga pernah menjabat anggota DPR RI dan Anggota DPRD Jateng mengaku telah kirim surat rekomendasi penganugerahan dokter Kariadi ke Gubernur Jateng dan Menteri Sosial.

Sebagaimana buku “Riwayat Perjuangan dr. Kariadi” karya Nina Herlina dan Wasino, dokter Kariadi ini gugur ditembak penjajah Jepang saat hendak mengecek Resorvoir Siranda yang dikabarkan diracun tentara negeri Matahari Terbit tersebut. Peristiwa pencegatan dan penembakan terjadi di jl Pandanaran, Semarang. Sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tak terselamatkan. Kariadi meninggal di usia 40 tahun.

Sementara itu, Nina Herlina ditemui disela-sela kunjungannya ke Museum Ranggawarsita Semarang mengaku pernah mengusulkan Kariadi jadi pahlawan nasional pada 2007 silam, tapi terkendala kelengkapan administrasi. Selama 11 tahun terakhir, sebagai sejarawan telah berhasil mengupayakan penganugerahan tujuh gelar pahlawan nasional. Karenanya, ia dimintai tolong untuk kembali mengusulkan dokter Kariadi sebagai pahlawan.

“Saya kembali mengusulkan dokter Kariadi jadi pahlawan nasional, setelah mendengar cerita almarhum Prof Sri Hartini Kariadi yang sama-sama dari Unpad dengan dirinya. Apalagi Kariadi juga diabadikan nama rumah sakit, karenanya kami juga mohon bantuan Gubernur Jateng,” ungkapnya.

Di provinsi lain, nama rumah sakit diambil dari nama dokter yang sudah jadi pahlawan. Karenanya, Kariadi layak jadi pahlawan nasional.
Di sisi lain, Kepala Museum Ranggawarsita Semarang, Asih Widhiastuti yang menerima rombongan tim Nina menyambut baik, adanya koleksi dokter Kariadi dipamerkan di museumnya.

“Konsep museum dokter Kariadi berbasis teknologi, kemungkinan ada film, foto, dan barang peninggalan dokter Kariadi di dalam Museum Ranggawarsita Semarang,” jelasnya.

Rencananya, museum Kariadi diresmikan pada November mendatang. Penambahan koleksi ini diharapkan menambah kunjungan ke museum untuk pembelajaran maupun wisata.


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *