Pengamat Pendidikan: Evaluasi Kembali Pembelajaran Daring

oleh -53 views

Pengamat pendidikan Dedi Mulyasana mengatakan, pendidikan idealnya bukan sekadar mentransfer ilmu tetapi membentuk jiwa, karakter, dan hati nurani anak.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan tahun ajaran baru dimulai Senin (13/7/2020). Pada semester genap 2019/2020, sistem pembelajaran dilakukan secara daring. Pengamat menilai sistem ini perlu dievaluasi karena terkesan hanya menggugurkan selesainya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Pengamat pendidikan Dedi Mulyasana mengatakan, pendidikan idealnya bukan sekadar mentransfer ilmu tetapi membentuk jiwa, karakter, dan hati nurani anak. “Karena itu yang menghubungkannya bukan sekadar media pembelajaran dalam arti digital,” tuturnya.

Zaldhi Yusuf Akbar, dosen sekaligus pengamat pendidikan turut berkomentar. “Ada kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya ketika pembelajaran secara online lebih mudah, praktis, bisa dilakukan di mana pun tetapi pemahaman pasti akan jauh berbeda dibanding tatap muka,” ujarnya.

Salah seorang orang tua siswa asal Cilacap, Isti, juga mengeluhkan sistem pembelajaran daring yang melibatkan banyak peran orang tua. “Merasa dibebankan. Kendala orang tua itu ketika anak belajar dengan orang tuanya banyak ngga maunya. Bingung ketika anak sudah ngga ada keinginan untuk belajar karena tidak ada pemahaman orang tua tentang psikologis bagaimana menghandle anak dalam belajar. Jadi yang ada akhirnya orang tua emosi, stres lalu anak lebih stres lagi. Akhirnya materi pembelajaran kurang diserap. Belum lagi ketika orang tua bekerja tidak full menemani anak,” ujar Isti.

Kesulitan serupa nyatanya dialami juga banyak orang tua. Dedi pun menekankan peran Guru harus proaktif. Di masa pandemi ini kemampuan Guru lebih ditingkatkan.

“Bukan hanya menguasai ilmunya, bukan hanya menguasai metodologi, meguasai sistem evaluasi, tetapi juga menjadi psikolog yang baik atau komunikator yang baik,” ujar Dedi.

Sebelumnya sudah terdapat panduan pembelajaran di masa pandemi melalui Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemendikbud Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah di Tengah Covid-19. Namun butuh pengkajian lagi soal sistem pembelajaran yang efektif dilakukan saat masa pandemi ini.

Para pengamat menilai perlu ada kurikulum khusus yang mengatur. Kurikulum yang sekarang masih digunakan adalah kurikulum untuk pembelajaran konvensional untuk situasi normal. Dedi mengatakan, kurikulum saat ini tidak cocok digunakan di situasi “abnormal”.

Zaldhi menambahkan, baiknya kurikulum dievaluasi lagi. “Kurikulum peralihan, ya. Alangkah baiknya bisa mix, ada online dan offline. Di bagian praktik mungkin jadi ada video. Kemudian ada subsidi kuota dari pemerintah atau pemotongan biaya-biaya sehingga siswa dan orang tua tidak keberatan dengan hal ini juga,” ujarnya.

Beberapa sekolah sendiri tampaknya sudah mempertimbangkan hal tersebut. Isti yang merupakan ibu dari anak yang baru menginjak sekolah dasar, menceritakan pilihan yang diberikan sekolah.

“Ada tiga alternatif yang pertama full daring. Kedua, berangkat sepekan sekali dengan kuota anak sehari 20% jumlah siswa keseluruhan. Alternatif berikutnya home visit seminggu sekali dengan berkelompok maksimal 4 anak,” tuturnya.

Pihak sekolah akan mempertimbangkan pilihan mayoritas orang tua siswa juga izin dari pemerintah daerah dalam pembelajaran semester ganjil 2020/2021. (Ventriana Berlyanti)



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *