Pelaku Industri MICE Perlu Tumbuhkan Kepercayaan ke Masyarakat

oleh -271 views

  • Jumat, 12 Juni 2020 | 20:20 WIB
  • Penulis:

SEMARANG, suaramerdeka.com – Industri MICE diharapkan dapat bersiap dan mengantisipasi perubahan yang akan terjadi dalam penyelenggaraan MICE ke depan saat memasuki era new normal. Seiring dengan upaya pemerintah menanggulangi penyebaran COVID-19, para pelaku kegiatan MICE juga terus didorong untuk tetap produktif. Berbagai usulan dan strategi disampaikan dalam webinar bertajuk “Menyongsong Kebangkitan Indsutri MICE di era New Normal”  yang digelar Suara Merdeka Network bersama Kadin Jateng dan Alste Indonesia lewat aplikasi zoom yang disiarkan secara streaming lewat akun youtube Suara Merdeka, Jumat (12/6).

Dalam ngobrol virtual yang disaksikan ratusan penonton itu menghadirkan tujuh pembicara yakni Wali Kota Semarang,Hendrar Prihadi, GM Mahkota Enterprise Indra Suryajaya, Kadisporapar Jateng Sinung N Rachmadi, Ketua BPD PHRI  Jateng Heru Isnawan, Wakil Kadin Jateng Benita Arijani, Ketua Asita Jateng Joko Suratno, Akademisi Solichoel Soekaemi , GM Hotel Star dan pegiat wisata Benk Mitosih dan Ketua kadin Jateng, Kukrit Suryo Wicaksono.

Kukrit Suryo Wicaksono selaku Ketua Kadin Jateng mengatakan pemerintah bisa memberi semacam dukungan kepada pelaku kegiatan MICE.

“Mungkin bisa dengan memberikan semacam support pemerintah dalam hal subsidi atau stimulus untuk perilaku indsutri MICE, teman-teman EO kita diberi sedikit keringanan pajak atau fasilitas lain, sehingga temen-temen yang sat ini ibaratanya sedang mencoba ngelilir bisa bangkit, berdiri dan berlari kembali,” ungkapnya.

Sementara wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menyebut Pemkot Semarang mendukung kreativitas maupun inovasi untuk bisa melaksanakan aktivitas usaha termasuk MICE.

“Sejatinya peluang usaha yang ada dilakukan inovasi dan kreativitas, artinya pemkot ingin hal yang disekitar usaha MICE berjalan dengan baik. Nanti di akhir PKM jilid tiga kami berlakukan modal pembatasan misal satu gedung 1000 orang, acara boleh diadakan dengan kapasitas 30% dan jaga jarak, karena saya masih khawatir karena masih banyak yang mengindahkan SOP kesehatan. Kalau sudah paham kalau sekarang harus hidup berdampingan dengan covid, akan kita buka untuk bisa berkegiatan seperti semula tentunya dengan pembatasan-pembatasan luasan wilayah,” bebernya.

Sinung N Rachmadi, Kadinporapar Jateng, meminta pelaku MICE untuk mulai melakukan simulasi dengan merancang hal-hal yang dipakai membangun kepercayaan kepada masyarakat jika telah siap.

“Tidak ada kata lain selain kita berikan simulasi. Memberikan pola hidup baru, membangun kepercayaan, indikatornya bersih sehat nyaman. Maka siapapun yang jadi penyelenggara, buat dong video kalo EO kamu siap, ini akan jadi sebuah penuangan aspirasi untuk masyarakat percaya,” tuturnya.

Heru Isnawan, Ketua BPD PHRI Jateng sepakat dengan Walikota Semarang jika new normal standar baru ini sangat diperlukan. Dirinya menambahkan hotel-hotel juga sudah mulai mempersiapkan semuanya dan termasuk membatasi kapasitas ruang saat penyelenggaraan kegiatan.

“Bahwa hotel sudah mempersiapkan semuanya, memang harus jadi kebiasaan baru, jadi jangan heran dekat lobi ada wastafel, di resepsionis ada pembatas seperti kaca, terimakasih juga pak Hendi dan pak Sinung telah membantu  mensosialisasiakan hotel era new normal, kebiasaan baru juga harus dimunculkan, sehingga tamu tidak canggung atau komplain nantinya,” kata Heru.

Indra Suryajana, GM Mahkota Enterprice, mengatakan pelaku kegiatan event harus mulai kreatif dan inovatif dalam mempersiapkan penyelenggaraan event.

“Saat ini kita harus melek dengan teknologi, luar biasa Suara Merdeka membuat webinar yang mengedukasi, Pandemic ini luar biasa merubah, termasuk menerapkan teknologi yang ada termasuk dalam industri MICE, seperti registrasi kita lakukan secara digital, sebab kertas dan bolpoin bisa jadi media penularan, jadi kami lakukan registrasi dengan QR code untuk menghindari sentuhan langsung, ini sudah kita coba di simulasi lalu dan harus mulai dibiasakan saat ini,” terangnya.

Benita Arijani, Wakil Kadin Jateng melihat ada terobosan yang bisa dilakukan industri pariwisata agar bisa bertahan di era new normal. Selain itu usulan sertifikasi kepada obyek wisata yang memenuhi syarat kebersihan global.

“Industri pariwista perlu menerapkan standar kebersihan dan kesehatan yang sesuai standar global, MICE adalah bagian dari pariwista, pengunjung yang kita targetkan tidak melihat jumlah tapi kualitas, yang penting juga ialah kolabrosai pemerintah dengan swasta, diperlukan penerapan prosedur pengecekan kesehatan yang terintegrasi dengan pengunjung yang datang, juga diperlukan kepercayaan, meski saat ini sudah dilakukan simulasi tapi jumlah tamu masih kecil jadi memang dibutuhkan satu kepercyaan dari kita semua agar wisatawan percaya bahwa industri wisata sudah pulih,” jelasnya.

Sedangkan GM Star Hotel yang juga pegiat wisata, Benk Mintosih menggaris bawahi pada tingkat kedisiplinan soal protokol kesehatan yang belum sepenuhnya dijalankan.

“Kalau soal kesiapan MICE, 80% teman teman sudah siap, tapi yang belum justru pada disiplin diri masing-masing, seperti peduli dengan jaga jarak, bagaimana hukuman melanggar disiplin seperti menerima orang tidak pakai masker, ini harus dipikirkan, saya yakin jika bersama-sama MICE yang jadi devisa besar akan kembali,” bebernya.

Solichoel Soekaemi, Akademisi menyebut ada empat aspek yang harus dipenuhi untuk membangkitkan bidang MICE di era new normal.

“Pertama aspek industri, aspek branding, aspek akademis dan aspek SDM. Kami mengusulkan kepada Dispar Kota Semarang dan Disporapar Prov Jateng  untuk mengintegrasikan kegiatan soasialiasasi MICE di destinasi,” ujarnya.

Joko Suratno, Ketua ASITA Jateng mengatakan dalam masa new normal akan membuat strategi pemasaran yang sesuai konsep yakni eco tourism. Konsep ini sebetulnya sudah masuk new normal, karena dibatasi pengunjungnya.

“Saya kira tahun ini MICE sulit bergerak, kalau di MICE ini travel agent terkait dengan incentive, intinya kami menunggu kebijakan pemerintah, kedua tolong disosialisaiskan terkait protokol kesehatan, ketiga kita harus sinergi dengan kebijakan pusat yakni kemenparekraft yaitu ada program CHS, Client Healty Safety, ini kita bersama-sama, Kota Semarang dan Jateng mengkampanyekan program pemerintah supaya sinkron,” pungkasnya.


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *