Nicke Kembali Jabat Dirut Pertamina, Pengamat: Karena Kekuatan Pendukung, Bukan dari Penilaian Kinerja

oleh -488 views

AKURAT.CO Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mengangkat kembali Nicke Widyawati sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), dengan menjungkalkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang sempat digadang-gadang menjadi Dirut Pertamina.

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Fahmy Radhi mengatakan, pengangkatan dan penjungkalan itu semakin menguatkan indikasi bahwa Pendukung Nicke lebih kuat ketimbang Ahok.

Ia berpendapat pengangkatan kembali Nicke sebagai Dirut Pertamina lebih didasarkan pada kekuatan Pendukung, bukan didasarkan atas kriteria dan Kinerja terukur.

baca juga:

“Selama menjabat Dirut Pertamina, Kinerja Nicke cenderung jeblok. Indikatornya, perolehan laba yang dicatatkan sebagian besar berasal dari dana kompensasi dari Pemerintah, bukan dari pendapatan usaha,” ujar Fahmy dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (12/6/2020).

Ia berpendapat Nicke gagal dalam menaikkan lifting minyak dari sumur-sumur yang dikelola Pertamina. Bahkan, di sumur terminasi, Blok Madura dan Blok Mahakam, produksinya semakin menurun saat diambil alih oleh Pertamina. Padahal peningkatan lifting itu sangat dibutuhkan untuk menekan defisit neraca migas, yang semakin membengkak.

Kemudian, kata dia, Nicke juga gagal dalam pembangunan kilang minyak. Dari lima kilang minyak yang direncanakan hampir tidak ada progres berarti, bahkan mengalami kemunduran. Kerja sama Pertamina dan Aramco untuk pengembangan Kilang Cilacap justru berakhir sebelum dimulai. Demikian juga dengan Kilang Bontang, kerja sama Pertamina dengan OOG Oman, juga kandas di tengah jalan.

“Padahal, pembangunan kilang merupakan perintah Presiden Joko Widodo sejak periode pertama, tetapi tetap saja kilang minyak tidak dapat dibangun,” ucapnya.

Selain ketiga Kinerja jeblok itu, Fahmy menuturkan, Nicke tidak adil terhadap konsumen BBM nonsubsidi. Pada saat harga minyak dunia naik, Pertamina dengan sigap menaikkan harga BBM nonsubsidi.

Namun pada saat harga minyak dunia terpuruk pada titik nadir, Pertamina tidak menurunkan harga BBM nonsubsidi. Memang Pertamina dapat meraub laba besar, tetapi masyarakat sebagai konsumen dirugikan.

“Tidak mengherankan kalau Koalisi Masyarakat Sipil dan KPPU melayangkan gugatan atas keputusan Pertamina tidak menurunkan harga BBM nonsubsidi pada saat harga minyak dunia sangat rendah,” pungkasnya. []

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *