Miris Nasib Sopir Angkot Semarang Tiap Pulang Bawa Rp 30 Ribu

oleh -16 views

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Pendapatan sopir angkutan darat di Kota Semarang belum mengalami peningkatan yang signifikan meski Pemerintah Kota Semarang telah melonggarkan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM).

Beberapa fasilitas publik dan pariwisata yang telah dibuka pun belum mampu mendorong pendapatan dari pada pelaku usaha di bidang transportasi

Ketua DPC Organda Semarang, Bambang Pranoto Utomo mengatakan bahwa saat ini sudah nampak geliat perekonomian dalam bidang transportasi mulai terasa.

4 ABG Isi Bensin Tak Mau Bayar di SPBU Ngaliyan Semarang Menyerahkan Diri ke Polisi Diantar Orangtua

Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun, Ibu & Anak Warga Ungaran Semarang Tewas Terlindas Bus Hino

Ancaman Komjen Listyo Sigit Prabowo Babat Habis Polisi Kongkalikong dengan Buronan Djoko Tjandra

Banyak PNS Banjarnegara Digaji Malah Kluyuran Tak Jelas, Bikin Murka Bupati Budhi Sarwono Saat Sidak

Hal karena tempat yang menjadi salah satu tempat sumber penghasilan sudah dibuka kembali seperti Bandara, Stasiun dan Tempat wisata

“Bus pariwisata sudah ada yang telah melakukan perjalanan wisata, namun masih belum maksimal, taksi pun juga sudah mulai beroperasi namun juga sama belum maksimal, sama halnya dengan angkot yang juga belum maksimal,” katanya, saat dihubungi Tribunjateng.com, Selasa (21/7)

Menurutnya hampir semua transportasi belum berjalan secara maksimal meski kelonggaran sudah diberikan dalam masa PKM.

Alhasil pihak pengusaha jasa transportasi pun memberikan kelonggaran kepada sopir dan kru angkutan mereka.

Mereka memberikan keringanan uang setoran agar meringankan beban dari sopir dan kru tranportasi yang berusaha mencari penumpang.

“Sebelum pandemi sopir angkot biasanya menyetor uang setoran sebesar 100-125 ribu rupiah perhari dan masih bisa membawa pulang uang sebesar 60 ribu rupiah. Saat dilakukan PKM sopir angkot mengalami penurunan yang sangat drastis sampai tidak ada pendapatan.

Kini setelah diberlakukan kelonggaran, para pengusaha juga memberikan kelonggaran yakni hanya menyetor 50ribu sampai 60 ribu rupiah saja, namun pendapatan sopir masih sangat kurang, mereka hanya membawa uang 30 ribu rupiah,” saja.

Ia pun menyadari, kurangnya pendapatan itu dikarenakan turunnya minat masyarakat menaiki angkutan umum karena makin tingginya angka penularan yang terjadi di Kota Semarang.

Di sisi lain masyarakat mengalami penuruanan pendapatan mereka sehingga mengurangia aktivitas gerak mereka.

“Saat ini sudah banyak berbagai pihak dari swasta muapun pemerintah yang peduli terhadap para nasib para pelaku dibidang usaha transportasi. Harapan kami tentunya pandemi covid19 bisa berlalu sehingga aktivitas transportasi dapat meningkat kembali,” katanya.

Sempat Reaktif Corona, Hasil Swab Anggota DPRD Jateng Dinyatakan Negatif

Wawali Pekalongan Tak Beri Jempol Aksi Emak-emak Bikin Vidoe TikTok di Exit Tol Setono

Iis Dahlia Ungkap Pergolakan Batin Lesty Saat Datang di Pernikahan Rizky D Academy: Aku Nangis Mulu

4 ABG Isi Bensin Tak Mau Bayar di SPBU Ngaliyan Semarang Menyerahkan Diri ke Polisi Diantar Orangtua



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *