Menggenjot Pemulihan Pariwisata | TIMES Malang

oleh -3 views

TIMESMALANG, JAWA TENGAH – Wabah virus Corona telah berdampak serius dan merusak hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat, baik secara sosial-budaya, maupun perekonomian. Masyarakat terpaksa bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah di rumah sebagai salah satu konsekuensi logis dalam upaya memutus mata rantai penyebaran virus. Dampak yang dirasakan masyarakat sungguh memprihatinkan, khususnya pelaku industri pariwisata, yang mengedepankan pelayanan kepada wisatawan.

Wabah virus corona mulai berdampak pada pariwisata Indonesia, dimana menurut data Badan Pusat Statistik (BPS),  jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Maret 2020 mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 64,10 persen dibanding jumlah kunjungan pada Maret 2019. Bahkan pada bulan April 2020 jumlahnya semakin merosot hingga menurun sampai 87,55 persen. Meskipun masih mengalami penurunan dibanding tahun 2019, namun memasuki era new normal, jika dibandingkan saat diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), memasuki bulan Juni 2020, pariwisata mulai sedikit menggeliat. Sektor pariwisata yang terpuruk akibat pandemi Covid-19 tengah memasuki era normal baru. Perubahan paradigma tengah berlangsung dan sejumlah protokol baru akan diterapkan untuk menyambut kondisi normal baru di industri pariwisata.

Strategi Baru Memulihkan  Pariwisata

Penerapan New Normal seperti memberi angin segar untuk memulai kembali pengembangan sektor pariwisata. Tatanan kehidupan baru ini memang tidak mudah untuk mengembalikan wujud pariwisata seperti dulu. Tetapi, dengan strategi baru, pariwisata pasti bisa bangkit kembali. Beberapa destinasi wisata dan industri ikutan lainnya di Indonesia mulai berbenah dan membuka diri menyambut kunjungan wisatawan selama “New Normal”, seperti hotel, café, restauran, resor, wisata pantai, dan lain-lain. Tentu bukanlah hal yang mudah, mengingat banyak pertimbangan dan persyaratan yang harus diperhatikan dalam memberikan rasa nyaman kepada wisatawan dari ancaman Covid-19. Untuk jangka pendek, kunjungan wisatawan lokal seharusnya menjadi target utama, khususnya berwisata antarkota (intercity).Dibukanya sektor pariwisata ini tentu dengan banyak persyaratan dimana harus mengikuti protokol kesehatan. 

Di dalam hotel, penyemprotan dengan disinfektan juga dilakukan, terutama di lobi, pegangan pintu, lift, dan eskalator. Karena merupakan area yang sering disentuh oleh banyak orang. Karyawan wajib pakai masker atau face shield, disediakan wadah cuci tangan, serta ada jumlah maksimal pengunjung untuk menaati aturan jaga jarak.

Makan pagi yang disediakan hotel juga diantar ke kamar pengunjung, agar mematuhi aturan jaga jarak. Sedangkan untuk menghindari penularan virus corona melalui uang kertas, maka pembayaran harus memakai cashless alias melalui transfer, kartu kredit, atau dompet digital. Pengunjung juga wajib diperiksa suhu badannya, maksimal 37,2 derajat celcius.

Dengan dibukanya kembali pariwisata disambut gembira oleh masyakat yang sudah rindu ingin berjalan-jalan. Pengusaha di bidang tour and travel juga bisa merasa lega karena mendapatkan pesanan lagi dari turis lokal, dengan mematuhi aturan physical distancing dan protokol kesehatan lain. Misalnya jika di dalam 1 bus bisa berisi 30 orang, maka diatur agar isinya maksimal 15 orang saja. Paket tour juga bisa memberikan bonus masker dan face shield gratis untuk pesertanya. Di dalam bus dan tempat wisata juga harus dipastikan higienis agar peserta merasa aman dan tidak tertular virus corona.

Pengelola restauran atau café harus senantiasa menjaga kebersihan dan kesehatan diri para pelayan, tidak hanya saat berinteraksi dengan wisatawan, tapi juga saat melakukan proses meracik makanan di dapur. Kebersihan kamar kecil, wastafel, lantai, meja dan kursi, peralatan dapur dan bahan-bahan makanan lainnya adalah keniscayaan, termasuk juga penyemprotan cairan disinfektan secara berkala.

Untuk penataan meja dan kursi, satu meja hanya berisi dua atau tiga kursi dan berjarak satu meter atau tergantung luas ukuran meja dan ruangan serta interaksi pelayan dengan pengunjung dibatasi berjarak satu sampai dengan dua meter. Pelayan restauran harus mampu menciptakan nuansa aman dan nyaman bagi setiap wisatawan. Termasuk juga ikut berperan dalam mengingatkan wisatawan tentang pentingnya pola hidup sehat melalui penerapan Protokol Kesehatan yang tegas.

Kebijakan membuka kembali industri pariwisata di era New Normal perlu memperhatikan trend perkembangan wabah Covid-19 di daerah dan harus diawasi dengan ketat dan disiplin serta mempertimbangkan kesiapan daerah. Penerapan Protokol Kesehatan selama New Normal juga menjadi penting dengan selalu mengutamakan aspek kebersihan, kesehatan, dan keselamatan bersama bagi semua pihak menuju keberhasilan penangananan sektor kesehatan dan ekonomi masyarakat secara bersamaan. Memang sulit diprediksi kapan pandemi ini akan berakhir. Tetapi pariwisata saat ini membutuhkan semangat baru untuk bisa bangkit. Meski bergerak perlahan, pengembangan wisata harus dimulai dari sekarang. Modifikasi cara kerja dengan memperhatikan protokol kesehatan perlu ditempuh dan berusaha menjamin aspek kenyamanan, keamanan, dan kesehatan. 

***

*)Oleh : Hayu Wuranti, Statistisi Ahli Madya, BPS Provinsi Jawa Tengah.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *