Mengembalikan Denyut Pariwisata – Suaramerdeka

oleh -29 views

  • Minggu, 19 Juli 2020 | 00:15 WIB
  • Penulis:

Seiring adaptasi kebiasaan baru (new normal), sektor pariwisata yang beberapa bulan terakhir mati suri mulai menggeliat. Beberapa objek wisata sudah mulai kembali dibuka, meski dengan berbagai pembatasan dan penerapan protokol kesehatan.

Di Jawa Tengah sebagaimana dikemukakan Kepala Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah Sinoeng N Rachmadi, dari 690 daya tarik wisata (DTW), yang sudah membuka pintu masuk sebanyak 208 DTW. Selain itu sebanyak 50 DTW sedang melaksanakan simulasi pembukaan (latihan buka) dan proses izin kepada Gugus Tugas Covid-19 setempat.

Secara umum, jelas Sinoeng pembukaan sebuah destinasi wisata memang harus memperhatikan kondisi daerah. Pengelola juga harus memenuhi protokol kesehatan, telah melakukan simulasi pembukaan, serta dapat izin dari ketua gugus tugas Covid-19 setempat. ‘’Wajib dan harus mengajukan izin, serta memperoleh izin dari Gugus Tugas Covid19 Kab/Kota dan/atau Provinsi, serta memperhatikan perkembangan peta pandemi setempat. Kesimpulannya jika ada destinasi wisata yang buka secara umum tanpa memeroleh rekomendasi dari ketua gugus covid setempat, yang diketuai kepala daerah, maka dinyatakan ilegal!’’ tandas dia.

Disporapar Jateng telah membuat SOP, ‘’Njagani Plesiran’’ sebagai tindak lanjut dari Instruksi Gubernur No 2 Tahun 2020 tentang tata cara memasuki masa peralihan yang meliputi tujuh poin, termasuk pariwisata. “Salah satu substansinya mengatur tentang SOP Menuju Tatanan Normal Baru Bidang Pariwisata “Njagani Plesiran” antara lain, pakai masker, ada tempat cuci tangan dan hand sanitizer, thermal gun, jaga jarak, serta mencegah kerumunan,’’ papar dia.

Selain itu, lanjut dia, pengelola wisata juga wajib menyediakan ruangan khusus dan tim medik setempat seperti puskesmas atau RSUD setempat. ‘’Untuk ticketing, juga wajib menerapkan layanan tiket non tunai atau cashless,’’ ujar dia.

Menurut dia, ada norma-norma yang harus dipenuhi pengelola destinasi wisata. Mereka tidak serta merta buka sebelum melakukan simulasi atau latihan. Selanjutnya, adalah izin dari satgas gugus covid setempat untuk melihat kondisi daerah apakah kategori merah, kuning, atau hijau. Sejauh ini yang direkomendasikan adalah yang masuk kuning dan hijau. ‘’Dalam instruksi gubernur itu diatur bahwa daya tarik wisata yangg boleh buka operasional adalah yang berada dalam Wilayah zona hijau dan zona kuning terkini. Data ini harus selalu update setiap hari sedangkan zona merah dilarang buka. Ini demi kepentingan bersama!’’tandasnya.

Terbatas

Daya tarik wisata yang telah diizinkan buka operasional, lanjut dia, selain wajib menerapkan protokol kesehatan, pembukaan operasionalnya dilakukan secara terbatas dan bertahap. Artinya maksimal 50 % dari kapasitas pengunjung pada saat sebelum pandemi, dan bertahap. ‘’Artinya dibuka dalam periode tertentu seperti dua minggu saja, bukan buka operasional seterusnya . Itu pun harus dievaluasi pelaksanaannya dan melihat perkembangan peta pandemi setempat,’’ jelasnya.

Sinoeng mencontohkan Candi Borobudur, rata-rata pengunjungnya 14 ribu-15 ribu sehari. Maka ketika dibuka, pengunjung dibatasi maksimal 7.000 orang. Untuk masa transisi ini, pihaknya juga memprioritaskan wisatawan lokal. Maka tagline wisata Jawa Tengah, ‘’Ke Jateng Aja’’. Tidak punya target untuk wisatawan asing. ‘’Kita utamakan wisatawan lokal. Kenapa? Kita bisa lebih tahu tingkat mobilitas orang,’’ terang dia.

Kuncinya, menurut dia, adalah sehat, bersih, dan aman. Ada tiga elemen penting, yaitu clean, health, dan save. ‘’Apabila dalam pemberian izin buka operasional secara bertahap dan terbatas diketahui ada pelanggaran protokol kesehatan atau ditemukan cluster penderita baru, maka daya tarik wisata itu langsung ditutup kembali,’’ kata Sinoeng.


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *