Mati Berdiri – Fajar Indonesia Network

oleh -42 views

Oleh Dahlan Iskan

Putuslah sudah harapan saya yang sempat meroket itu: pembangunan kilang besar–agar kita swasembada bahan bakar minyak.

Roket itu meluncur bukan tanpa alasan. Bacalah keterangan pers Dirut Pertamina usai dengar pendapat di DPR. Awal tahun tadi.

Di forum itu terkesan begitu pastinya: sudah tinggal jalan. Ini akan sangat bersejarah. Setelah 30 tahun Indonesia jalan di tempat: tidak bisa membangun kilang besar.

Sebenarnya tidak semua punya perasaan meroket seperti saya. Banyak yang pesimistis sejak awal. Pun tetap pesimistis meski keterangan Dirut Pertamina begitu menggiurkannya.

Saya memang mencoba terus bersikap optimistis. Termasuk ketika dulu itu: ketika saya tahu begitu sulit membangun kilang besar.

Saya tidak pernah mencela kegagalan membangun kilang besar –begitu sulitnya. Pun sekarang ini–ketika harapan roket itu ternyata menukik.

Tentu saya pernah ikut rapat-rapat tingkat tinggi. Yang membahas rencana membuat sejarah kilang seperti itu.

Saya pun tahu betapa SULIT–dengan huruf besar. Jangan salahkan siapa-siapa.

Maka secara pribadi saya pun mengambil kesimpulan: harus ada terobosan lain. Yang out of the box.

Sudah terlalu banyak energi untuk membicarakan pembuatan sejarah itu. Sudah 30 tahun. Sudah sekian presiden.

Setiap presiden ingin membuat sejarah. Apalagi ini sejarah yang sangat seksi: bisa mengatasi impor BBM –yang jadi sumber fitnah terbesar dan terpanjang dalam sejarah.

Pikiran baru saya itu, waktu itu, mobil listrik. Tidak perlu lagi BBM.

Memang ide terlalu awal: sampai ada yang mempertanyakan soal tingkat emisinya. Betapa lucunya pertanyaan itu.

Atau pertanyaan ini: di mana nanti charging-nya.

Sampai-sampai saya harus menemukan jawaban ini: kita itu bisa membangun ribuan pompa bensin. Yang biayanya bisa Rp20 miliar/station. Padahal membangun stasiun charging itu hanya Rp20 juta. Di mana sulitnya.

Tapi, ya sudahlah. Itu sudah lewat. Sudah lama sekali. Sudah 8 tahun. Perkembangan mobil listrik di dunia sudah begitu majunya. Sudah sulit dikejar.

Tapi pilihan solusinya kan tidak berubah: tanpa mobil listrik kita harus membangun kilang besar. Untuk mengolah minyak mentah menjadi BBM –dan turunannya.

Satu kilang besar berkapasitas 300.000 barel/hari memerlukan investasi Rp 70 triliun.

Bagaimana bisa balik modal? Siapa yang mau mengucurkan dana segajah bengkak itu?

Hitungan balik-modalnya lebih panjang dari jalan Daendels – -dari Anyer sampai ke Panarukan.

Pun waktu saya masih ikut rapat-rapat-tingkat-tinggi dulu itu. Yang dicari ya ‘tinggal’ itu: bagaimana bisa balik modal.

Kalau pun ada yang mulai berminat minta fasilitasnya ampun-ampun. Apa saja harus diberikan pada investor. Baik dari pemerintah maupun dari Pertamina.

Kesimpulan saya lagi: fasilitas yang diminta itu sampai begitu tidak masuk akalnya–akal sehat maupun akal nasionalisme.

Padahal kalau pun kita berhasil membangun kilang itu minyak mentahnya toh masih juga harus impor.

Tetap saja mobil listrik.

Sekarang saya harus tetap optimistis – -optimistis level tiga. Saya akan diam saja kalau pun diputuskan harus impor mobil listrik. Apa boleh buat. Akar pun jadi.

Pun kalau harus perusahaan asing yang mendirikan pabrik mobil listrik di Indonesia. Saya akan diam menerima.

Saya sudah siap mental untuk menerima new normal itu –ups, new reality itu.

Move on.

Toh harapan pada dua-kilang-besar-baru itu sudah pupus. Investor nan gagah berani dari Oman saja sudah mundur dari proyek itu di Bontang. Dan investor malaikat dari Saudi –Aramco– juga sudah mundur dari proyek kilang Cilacap.

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *