Laba Trans Power Marine Terkoreksi 37,8%

oleh -165 views


NERACA

Jakarta – Emiten pelayaran PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) membukukan laba bersih sebesar US$ 1,19 juta di kuartal pertama 2020 atau turun 37,8% dibandingkan priode yang sama tahun lalu laba bersih sebesar US$ 1,92 juta. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Sebaliknya pendapatan perseroan tercatat sebesar US$13,65 juta atau naik 28,28% dibanding akhir Maret 2019 yang tercatat sebesar US$ 10,64 juta. Tapi beban pokok langsung tercatat sebesar US$ 9,99 juta atau naik 35,36% dibanding kuartal I 2019 yang tercatat sebesar US$ 7,38 juta. Ditambah dengan kerugian selisih mata uang sebesar US$ 969,1 ribu atau naik 687,8% dibanding kuartal I 2019 yang tercatat sebesar US$ 123,3 ribu.

Sedangkan pada sisi ekuitas tercatat sebesar US$ 80,25 juta atau naik 1,51% dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat sebesar US$ 79,05 juta. Sementara itu, kewajiban perseroan tercatat sebesar US$ 30,73 juta  atau mengalami penyusutan 5,64% dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat sebesar US$ 32,57 juta.   

Adapun aset perseroan tercatat senilai US$ 110,98 juta atau turun 0,62% dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat senilai US$ 111,63 juta. Kemudian kas bersih diperoleh dari aktivitas operasi tercatat sebesar US$ 270,14 ribu atau turun 93,86% dibandingkan kuartal I 2019 yang tercatat sebesar US$ 4,3 juta.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan membidik pertumbuhan pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar 15%. Direktur TPMA, Rudy Sutiono seperti dikutip kontan pernah mengatakan, tren industri pelayaran saat ini sedang bagus. “Kami lihat walaupun secara harga lebih kecil, tapi dari segi kuantitas tetap bertumbuh,”ujarnya.

Hal ini terjadi karena dari tingkat eksplorasi dan tingkat konsumsi dari komoditas masih cukup baik. Seperti batubara yang mengalami kenaikan konsumsi setelah beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru. Salah satunya adalah milik PLN di Cilacap. Selain itu, di kawasan Sulawesi ada tambang nikel dan rencana pembangunan pabrik baterai lithium. Sehingga, pengangkutan batubara yang sebelumnya hanya rute Kalimantan-Jawa, kini juga juga berlabuh ke Sulawesi. “Dengan sendirinya kebutuhan kapal tongkang akan bertambah, tetapi di satu sisi pertambahan kapal tongkang di Indonesia tidak signifikan sehingga pasarnya masih sangat besar untuk industri pelayaran,” ungkap Rudy. 

Hal tersebut juga membuat Trans Power Marine berencana menambah 6 kapal baru. Namun, Rudy mengaku, pencarian kapal bekas saat ini masih sulit. Ini berkaca dari rencana TPMA tahun lalu, di mana perusahaan juga berencana menambah 6 kapal, namun hanya mampu membeli 2 unit kapal. Walau sulit, namun TPMA tetap berencana mengalokasikan belanja modal sama dengan tahun lalu yakni US$ 10 juta – US$ 12 juta guna menambah 6 kapal.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *