Kunjungi Parangtritis Saat Masih Ditutup, Puluhan Wisatawan Tersengat Ubur-Ubur

oleh -129 views

Kunjungi Parangtritis Saat Masih Ditutup, Puluhan Wisatawan Tersengat Ubur-Ubur
Pantai Parangtritis. ©2020 Dok. Liputan6 & Brilio

Merdeka.com – Menuju era “normal baru”, sejumlah obyek wisata sebenarnya masih belum menerima kunjungan wisatawan. Namun karena pengawasan yang tidak begitu ketat, tetap saja ada wisatawan yang berhasil masuk. Mereka kemudian bisa berekreasi di tempat wisata itu walau sebenarnya masih ditutup.

Hal itulah yang terjadi di Pantai Parangtritis. Dilansir dari ANTARA pada Minggu (14/6), Pantai Parangtritis sebenarnya tengah mempersiapkan menyambut era normal baru. Sebelum nantinya dibuka kembali, tempat wisata itu terlebih dahulu melengkapi fasilitas dan sarana yang mendukung penerapan protokol kesehatan seperti penyediaan tempat cuci tangan, pemberian tanda physical distancing, dan lain sebagainya.

Tapi walau masih ditutup, tetap saja ada banyak wisatawan yang nekat berkunjung. Namun bukannya mendapat peringatan dari petugas untuk kembali pulang, mereka justru harus mengalami nasib sial yaitu terkena sengatan ubur-ubur. Berikut selengkapnya:

1 dari 5 halaman

40 Wisatawan Tersengat Ubur-Ubur

pantai parangtritis

©2020 Dok. Liputan6 & Brilio

Anggota Tim SAR Pantai Parangtritis, Rini, mengatakan, selama hari Minggu sejak pagi hingga sore hari, sebanyak 40 wisatawan dilaporkan tersengat ubur-ubur. Mereka kemudian langsung dibawa ke posko pertolongan untuk mendapat pertolongan dari personel tim SAR.

Sesampainya di posko, mereka kemudian diobati dengan salep dan diberi minuman air hangat. Mereka juga disarankan untuk tidak banyak bergerak.

Penanganan yang cepat dari tim SAR membuat tidak ada dari mereka yang sampai harus dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit.

2 dari 5 halaman

Ancaman Tiap Tahun

pantai parangtritis

©2020 Merdeka.com/Arie Basuki

Komandan SAR Pantai Parangtritis, Ali Sutanto mengatakan ubur-ubur menjadi ancaman bagi para pengunjung setiap tahunnya terutama pada bulan Juni sampai Juli. Rini mengatakan, korban sengatan yang memiliki daya imunitas tubuh yang kuat akan lebih cepat sembuh.

Namun bagi mereka yang memiliki penyakit asma, sengatan ubur-ubur akan menjadi sangat rentan sehingga penanganannya harus sampai dirujuk ke rumah sakit.

Ali Sutanto mengatakan sebagai antisipasi, pihaknya selalu menyediakan obat-obatan bila sewaktu-waktu ada wisatawan yang tersengat ubur-ubur.

Di samping itu, dia juga tak bosannya memberi imbauan kepada pengunjung baik secara langsung atau pengeras suara agar tak bermain atau menyentuh binatang itu.

3 dari 5 halaman

Pengalaman Terkena Sengatan

Lidiana (16) seorang wisatawan asal Magelang yang menjadi korban sengatan ubur-ubur mengaku baru pertama kali merasakan pengalaman pahit itu. Sesaat sebelum tersengat dia bermain air laut bersama teman-temannya hingga kemudian datanglah gelombang yang mengenai tubuhnya. 

Namun setelah ombak surut, ada ubur-ubur yang menempel pada bagian pergelangan tangan dan kakinya. Tak lama kemudian dia dan teman-temannya yang terkena sengatan langsung merasakan panas sampai pada bagian lengan tangan dan perut.

4 dari 5 halaman

Masih Ditutup

pantai parangtritis

©2020 Dok. Liputan6 & Brilio

Meskipun sudah banyak wisatawan yang mengunjungi Pantai Parangtritis, namun sebenarnya obyek wisata itu masih ditutup. Tempat itu tengah mempersiapkan diri menyambut era new normal dengan menyiapkan berbagai protokol yang didukung dengan fasilitas yang memadai.

“Untuk pembukaan tentu kita memperhatikan kesiapan. Kalau belum siap jangan dibuka. Kita lihat situasi nanti. Kalau siap, kita simulasi dulu. Kemudian uji coba secara terbatas,” terang Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo, dilansir dari ANTARA.

5 dari 5 halaman

Berlakukan Kuota Pengunjung

Singgih mengatakan, pembatasan pengunjung dalam uji coba nantinya akan lebih bisa menjaga prinsip-prinsip social distancing. Untuk mendukung pelaksanaan protokol tersebut, nantinya akan diberlakukan kuota pengunjung.

“Itu agar bisa dipastikan tidak berkerumun. Kalau berkerumun nanti tim SAR dan Satpol PP yang akan menegur. Jadi nanti diberlakukan kuota. Kalau kuota 1.000 makan kemudian dibatasi 500 orang agar dipastikan tidak berdesak-desakan, termasuk dalam antrean dan sebagainya,” jelas Singgih pada Minggu (14/6).

[shr]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *