Krisis Keuangan, Destinasi Wisata Religi MAJT Dibuka

oleh -2 views

Semarang, Gatra.com – Pandemi Covid-19 menyebabkan kondisi keuangan salah satu masjid terbesar di Jawa Tengah, Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) menipis. Hal itu disebabkan tidak adanya pemasukan infak, sewa gedung maupun kunjungan wisatawan.

Mengatasi krisis keuangan ini Pengelola Pelaksana MAJT mulai membuka fasilitas ruang pertemuan convention hall berkapasitas 2.000 orang disewakan untuk kegiatan umum dan fasilitas lainnya.

Ketua PP MAJT Prof. KH. Noor Achmad M.A menyatakan, pertimbangan membuka semua fasilitas umumnya MAJT sebagai destinasi wisata religi termasuk convention hall, karena kondisi keuangan semakin menipis.

“Sejak awal Covid-19 pada Maret 2020 hingga kini keuangan MAJT terus menipis karena tanpa pendapatan. Biasanya per bulan pendapatan di atas Rp1 miliar dengan pengeluaran operasional berkisar Rp 600 juta,” katanya saat membuka istighotsah dalam rangka peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI di MAJT di Jalan Gajah Raya Semarang, Senin (17/8).

Meskipun sejak awal pandemi sudah diberlakukan efisiensi atau penghematan di semua lini, lanjut Noor Achmad, namun keuangan menyusut cepat karena belum ada pemasukan kecuali infak jumat yang jumlahnya relatif kecil.

Bila tidak ada gerakan yang menghasilkan dana maka dikhawatirkan di akhir tahun 2020 akan sulit untuk memprediksi kondisi MAJT. Namun phak MAJT tetap berusaha tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) 150 orang karyawan.

Untuk membuka convention hall ini dan fasilitas lainnya, PP MAJT akan mengajukan izin kepada instansi terkait Gugus Tugas Satgas Covid-19 Jateng dan Kapolda Jawa Tengah.

“Masyarakat yang akan memanfaatkan fasilitas convention hall untuk penyelenggaraan acara diberi diskon sewa hingga 50 persen,” ujar Noor Achmad.

Menurut ia, Covid-19 harus dijadikan bagian dari kehidupan, menuju kehidupan normal dengan protokol kesehatan ketat. Sebab belum tahu kapan akan berakhir bahkan dimungkin masih akan lama, sampai ditemukannya vaksin.

“Covid itu, tentara-tentara Allah yang diturunkan ke bumi untuk misi penguatan keimanan. Nantinya akan terseleksi di mata Allah mana yang mukmin sejati dan yang kuat imannya dengan yang tidak,” ujarnya.

Sementara istighotsah yang dipimpin Pengasuh Ponpes Addainuriyah, Sendangguwo Semarang, K H. Dzikron Abdullah diikuti segenap pengurus dan karyawan-karyawati MAJT dengan protokol kesehatan Covid-19, ketat. Di akhir acara, pengurus PP MAJT Drs. H. Istajib AS menyerahkan musaf Alquran tulisan tangan ukuran jumbo kepada Noor Achmad.

Musaf yang dimiliki Istadjib, merupakan tulisan K.H Masrur, Rembang yang dibuat mulai 1957-1962. Musaf itu akan dimasukkan ke Museum Perkembangan Islam Nusantara di MAJT.


Reporter: Insetyonoto

Editor: Budi Arista


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *