Kisah Suram Gang Sepi di Jalan Patriot Diubah Jadi Ikon Wisata

oleh -2 views

  • Selasa, 18 Agustus 2020 | 22:14 WIB
  • Penulis:

SEMARANG, suaramerdeka.com – Warga di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara, membuat ikon wisata “Wedangan Gang Sepi”. Ikon wisata yang berada di Jalan Patriot 1, RT 3 RW 6 itu sebagai tanda berakhirnya kisah suram berbagai kejahatan yang terjadi di gang sepi.

Sekretaris RT 3 RW 6 Kelurahan Purwosari, Fatchur Rahman menceritakan, dulu di gang sepi memiliki identik dengan cerita angker dan banyak tindakan kejahatan.

Sudah tidak heran di telinga masyarakat, jika mendengar gang sepi merupakan tempat untuk transaksi dan penyebaran narkoba. Kemudian di gang sepi juga sering terjadi penjambretan. Untuk itu, pemangku wilayah dan warga sekitar menginginkan citra negatif tersebut tidak lagi terdengar ditelinga masyarakat.

“Kami meninginkan citra negatif dan tindakan kejahatan di gang sepi bisa hilang. Salah satunya dengan melakukan penataan lingkungan hijau (Eco Green). Termasuk menginginkan agar bisa menjadi tempat wisata dengan menonjolkan khas wedangan gang sepi,” ujar Fatchur dalam kegiatan pelatihan pemasaran online dan pemberdayaan wirausaha warga, yang disampaikan dari para akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bank BPD Jateng, Selasa (18/8).

Tak heran, jika memasuki gang sepi akan terlihat banyak tanaman hijau, yang terpampang di sepanjang jalan dan di depan rumah warga. Termasuk di sudut tembok gerbang masuk gang sepi terdapat berbagai lukisan dan tulisan “Akhir Cerita Gang Sepi”.

“Diharapkan nantinya lingkungan hijau ini bisa dimanfaatkan warga untuk mengembangkan potensi. Warga dapat memanfaatkan sebagai tempat wisata, ada tempat selfi, mengadakan Car Free day (CFD), senam dan bazaar. Kemudian di sela-sela kegiatan itu, warga bisa menyisipinya dengan kuliner maupun barang dagangan yang bisa ditawarkan pengunjung,” terangnya.

Menurutnya, khusus untuk wedangan gang sepi merupakan mutlak hasil karya warga. Konsepnya hampir sama dengan angkringan, namun wedangan gang sepi akan dikemas lebih menarik. Jadi brand yang dimunculkan adalah khas spesialis wedangan, ada teh kopi dan rempah-rempah. Disamping itu, wedangan gang sepi juga tersedia wifi atau internet gratis.

“Adapun potensi lain yang dimiliki warga ada yang menjual oleh-oleh haji umrah, bonsai, katering, kerajinan rak pot tanaman dan masih banyak lagi. Jadi jika pengunjung datang, semua tersedia dan bebas memilih apa saja yang ingin dibeli,” ungkapnya.

Demi mendukung dan mewujudkan impian tersebut, warga RT 3 RW 6, STIE Bank BPD Jateng memberikan pendampingan berupa pelatihan pemasaran online, yang diisi Dosen STIE BPD Jateng, Taufik Hidayat. Ia memberikan materi Copy Writing, yaitu cara membuat tulisan, membujuk target dan merayu pengunjung dengan kata-kata agar pengunjung tertarik. Selanjutnya, warga akan diberikan pelatihan membuat blog dan berkembang dengan pembuatan iklan berbayar di facebook maupun instagram.

“Inovasi lain dengan membuat spot selfi yang instagramable. Jadi sangat menarik untuk diunggah di media sosial,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua STIE Bank BPD Jateng, Siti Puryandani mengatakan, pelatihan pemasaran online program yang bekerjasama dengan PLN untuk menyalurkan CSR. Kemudian secara internal STIE BPD Jateng memiliki dana untuk pengembangan pengabdian masyarakat dan penelitian. Untuk itu, pelatihan pemasaran online yang diberikan di wilayah RT 3 RW 6 Purwosari ini merupakan upaya untuk menggerakan ekonomi masyarakat.

“Jadi warga diberikan pelatihan jualan apa yang bisa dikembangkan oleh ibu-ibu rumah tangga. Kegiatan ini merupakan embrio baru untuk mengembangkan produk unggulan warga yaitu konsep wedangan gang sepi,” tandasnya.

Pasalnya, semua produk unggulan yang ada di RT 3 RW 6 telah dikerjakan dengan baik. Hanya saja belum bisa terpublikasikan dengan baik. Disamping itu belum ada yang menangani secara spesifik. Kemudian STIE Bank BPD Jateng memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Imbas pandemi menjadi pukulan sangat tajam terhadap perekonomian di Indonesia. Dalam paling skala kecil berimbas terhadap ekonomi rumah tangga. Maka bagi pengelola rumah tangga harus kuat dengan cara hidup hemat atau efisien, seimbang dan mereka perlu diberdayakan sesuai dengan kapasitasnya,” ujar Siti.

Baca Juga: Grab dan Pemkot, Kolaborasi Kembangkan Semarang Smart City

Baca Juga: Warga RT 7 Tugurejo Berdayakan UMKM Sembari Cek Kesehatan Gratis

 


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *