Dosen UKSW Turun Tangan Realisasikan Desa Kreatif Perdamaian

oleh -4 views

Salatiga:Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) melalui hibah pendanaan dari Ristek Dikti (Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi) tahun 2020, melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan Program Pengembangan Desa Mitra. Program ini diwujudkan dalam kegiatan pengembangan Desa Wisata Kreatif Perdamaian (DWKP) di Srumbung Gunung yang berlangsung sejak Januari 2020.
 
Tim Pengabdian Masyarakat UKSW kampus yang menjadi mitra penyedia beasiswa OSC (Online Scholarship Competition) ini melakukan serangkaian kegiatan untuk mendukung terealisasinya Srumbung Gunung menjadi DWKP. Pandemi tidak menghalangi tim UKSW dan DKPW untuk tetap mengadakan kegiatan PkM dan tentunya dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan covid-19.
 
Anggota Tim Pengabdian Masyarakat UKSW, Rini Kartika Hudiono mengatakan, berdasarkan data BPS tahun 2019, Indonesia memilik total 98 kota, 7.994 kecamatan, 8.490 kelurahan dan 83.931 desa. Dari sejumlah desa yang ada, 1.734 desa di antaranya sudah menjadi desa wisata.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Desa wisata dalam konteks wisata pedesaan dapat disebut sebagai aset kepariwisataan yang berbasis pada potensi desa dengan segala keunikan dan daya tarik yang dapat diberdayakan dan dikembangkan sebagai produk wisata. Potensi tersebut diharapkan dapat menarik kunjungan wisatawan ke lokasi desa tersebut.
 
“Keunikan yang disebut sebagai USP (Unique Selling Proposition) desa menjadi kunci daya tarik,” kata Rini, Rabu, 26 Agustus 2020.
 
Baca juga:Siap-siap Pendaftaran OSC 2020 Dibuka Besok
 
Dusun Srumbung Gunung, Desa Poncosuro yang terletak di Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah dipilih oleh Tim Pengabdian Masyarakat UKSW, salah satunya karena merupakan sebuah destinasi yang memiliki potensi sangat unik. “Selain bentang alam yang indah di lereng gunung Ungaran, keunikan yang menjadi daya tariknya adalah nilai-nilai kerukunan yang dihidupi meskipun masyarakatnya hidup dalam perbedaan agama,” terang Rini.
 
Diawali dengan semangat pemuda dusun ini, mereka membentuk CPSS (Creative Peace Srumbung Society). Anak-anak muda multiagama ini memiliki mimpi untuk membangun dusun mereka menjadi DWKP (Desa Wisata Kreatif Perdamaian).
 
Terbaru, kata Rini, belum lama ini diadakan pelatihan manajemen wisata. “Pelatihan ini dilakukan sebagai rangkaian kegiatan dari pelatihan sablon, manajemen pariwisata, manajemen homestay, pelatihan pembuatan jamu kekinian, training for trainers untuk live in nilai-nilai perdamaian, pelatiahan inovasi kuliner tradisional, pelatihan website, pelatihan digital marketing dan display kuliner tradisional,” terang Rini yang juga dosen Program Studi Destinasi Pariwisata UKSW ini.
 
Pelatihan Manajemen Pariwisata ini dihadiri dan diikuti 23 orang yang mewakili semua pemangku kepentingan DWKP, yaitu Kepala Desa, ketua CPSS, Ketua Karangtaruna Muda Tama, Ketua RT, bendahara dan sekretaris CPSS, pendamping desa dan CPSS, sekretaris desa, Ketua Dawis, kelompok tani, ketua PKK dan anggotanya. Bahkan anggota BPD, Kaur keuangan, perangkat desa, kades, ketua RW dan tokoh lintas agama.
 
Rini mengatakan, bahwa sebuah desa wisata kreatif perdamaian perlu membentuk Organisasi Pengelola Destinasi Pariwisata yang sering disebut DMO. Anggotanya harus meliputi semua pemangku kepentingan.
 
Organisasi ini akan memiliki fungsi kepemimpinan dan koordinasi, hubungan antar stakeholders, pelibatan masyarakat, informasi dan penelitian pariwisata untuk melakukan perencanaan, pengembangan produk serta promosi dan pemasaran destinasi pariwisata. Selain itu semua peserta diharapkan memiliki visi dan misi yang sama serta melakukan koordinasi yang baik.
 
“Pariwisata yang dikembangkan haruslah dapat mengentaskan kemiskinan (pro poor), menyediakan lapangan pekerjaan (pro job), melestarikan lingkungan (pro environment) dan menjamin pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal (pro growth),” imbuhnya.
 
Dalam rangka menjadikan Srumbung Gunung sebuah destinasi yang berhasil, tolok ukur yang perlu diperhatikan adalah 10A, yaitu amenitas, awereness, atraksi, availability, aksesibilitas, apresiasi, akuntabilitas, appearance, aktivitas dan assurance. Di tengah pandemi Covid 19, destinasi perlu benar-benar memperhatikan jaminan kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan.
 
Peserta pelatihan menyambut baik kegiatan ini. Salah satu peserta pelatihan Eko Widodo mengatakan cara penyampaian materi oleh trainer menjadi daya tarik tersendiri untuk para peserta. “Pelatihanya sangat menarik, mudah dipahami cara penyampaian dari trainer-nya. Hasilnya bisa membangun relasi dan keakraban pada seluruh stakeholders untuk menyamakan visi DWKP,” tutup Eko.
 
(CEU)



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *