Desa Medana Buka Destinasi Wisata dengan Protokol Kesehatan Ketat

oleh -16 views

Dunia pariwisata memang lesu di tengah pandemi. Tapi tidak bagi Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Tiga destinasi wisata di desa ini justru berkibar. Ada jurus jitu membuka destinasi wisata meski pandemi tengah mendera.

———————————-

 

ADA tiga destinasi pariwisata unggulan yang menjadi potensi Desa Medana yang tidak pernah sepi pengunjung itu. Yakni Pantai Impos, Pantai Bintang, dan Makam Religi. Tentu saja, kunjungan bukan ramai oleh wisatawan mancanegara. Melainkan oleh wisatawan domestik.

Pantai Impos menjadi primadona. Pesona indahnya sunset yang ditawarkan kemudian dimanfaatkan untuk menambah pundi rupiah bagi warga di sana. Warga mendirikan lapak-lapak yang menjual aneka kuliner bagi wisatawan yang berkunjung.

“Ada 40 lapak di Pantai Impos. Pantai Bintang 10 lapak, dan di Makam Religi juga ada 2 lapak,” ujar Kepala Desa Medana H Umar Halid pada Lombok Post.

Masing-masing lapak dikelola ibu rumah tangga dari satu kepala keluarga (KK). Penghasilan dari sektor ini cukup besar meski di tengah pandemi. Satu lapak rata-rata berpenghasilan Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta di hari biasa. Sementara saat hari libur bisa mencapai Rp 5 juta hingga Rp 7 juta per lapak.

“Dalam sebulan bisa puluhan juta,” sambung dia.

Begitu juga di Pantai Bintang. Meski tak seramai Pantai Impos, namun pendapatan dari kunjungan dan kuliner cukup membantu warga selama pandemi. Sementara wisata Makam Religi sangat ramai saat libur akhir pekan. Makam Religi ini diminati karena keunikannya. Ada tiga jenis makam di satu lokasi. Yakni makam Islam kerajaan Majapahit, Hindu Pura Medana, dan makam Buddha.

Bagaimana cara desa tetap membuka destinasi wisata di tengah pandemi? Kuncinya rupanya ada pada protokol kesehatan yang ketat pada para pengunjung.  Sebagai penyokong ekonomi warga di tengah pandemi, pemerintah desa memang ketat soal ini.

Protokol kesehatan tersebut antara lain dengan mewajibkan seluruh pengunjung mencuci tangan dengan sabun. Area wisata juga disterilisasi secara berkala dengan penyemprotan cairan disinfektan.

“Tiap lapak juga wajib menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun,” kata Umar.

Selain memanfaatkan tiga tempat pariwisata itu, Desa Medana juga memanfaatkan potensi perkebunan kepala, kacang mete, dan kakao. Sektor ini dikelola warga yang merupakan petani lokal sekitar. Bahkan sudah dibentuk kelompok tani yang mengelola potensi tanaman perkebunan ini.

“Di peternakan, warga kita bantu bibit ayam petelur dan itik. Ada 15 orang per kelompok dengan jumlah ternak kini mencapai 200 ekor,” jelas Umar.

Program-program ini kata dia, difokuskan pada warga yang tidak punya pekerjaan. Sehingga dengan begitu ekonomi keluarga tersebut tetap terjaga.

Tak hanya memberi bantuan, kata dia, Pemdes juga membimbing pola bisnis. Sehingga ketika panen, hasilnya tidak hanya untuk diri dan keluarga, namun juga memberikan pemasukan.

“Kita dorong untuk dikembangkan terus,” tandas dia.

Sementara itu Bhabinkamtibmas Desa Medana Bripka Ketut Lodi mengatakan, pengawasan dan pengamanan tetap dilakukan selama pandemi Covid-19. Di tempat pariwisata, pengunjung maupun pedagang diwajibkan memakai masker.

“Jika tidak pakai masker akan disuruh kembali dan tidak boleh masuk,” tegas dia.

Selain itu, ia bersama Pemdes Medana mengajak warga untuk memanfaatkan lahan depan rumah. Warga menanam aneka tanaman hortikultura yang bisa menekan pengeluaran kebutuhan sehari-hari.

“Ada cabai, tomat, bawang, pepaya california hingga sayur mayur,” kata dia.

Di samping bantuan ayam petelur dan itik warga juga dibantu peternakan sapi peranakan Bali. Satu kelompok memperoleh 15 ekor sapi untuk pembibitan.

Lodi menambahkan, budidaya madu trigona juga menjadi salah satu jurus Desa Medana bertahan di tengah pandemi. Lokasinya ada di Dusun Kopang yang dikelola kelompok Nektar Sejahtera sebanyak 75 stub.

Kata dia, kelompok ini bahkan mendapat bantuan 300 stub dari lembaga Bakrie Amanah. Ke depannya, mereka akan kembali mendapat bantuan 1.000 stub madu trigona.

“Dari 75 stub baru di panen 15 kotak dengan ukuran per botolnya 250 mililiter. Sudah dikirim ke Bakrie Amanah, dan sebagian dikonsumsi pribadi hingga dijual,” kata dia. (fer/r6)

 

Yang Keren dari Medana

 

  • Mengelola dan membuka tiga destinasi wisata saat pandemi.
  • Menerapkan protokol kesehatan ketat dari para pengunjung. Yang tidak memakai masker tidak dibolehkan berkunjung.
  • Membudidayakan madu trigona untuk warga.
  • Membagikan bantuan ternak produktif untuk warga yang tidak memiliki pekerjaan akibat pandemi.

 

Sumber: Diolah Lombok Post



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *