Demand Tinggi, Petani Cilacap Bangun Klaster Beras

oleh -178 views

Cilacap, Gatra.com – Petani di Cilacap dan Banyumas, Jawa Tengah bekerja sama dengan koperasi Desmantara dan Pangku Institute membangun klaster jenis beras. Ini dilakukan untuk merespons segmen pasar beras spesifik yang semakin berkembang luas pada masa pandemi Covid-19.

Ketua Koperasi Desmantara, Akhmad Fadli mengatakan klaster jenis beras itu antara lain, beras organik, beras varietas lokal, beras merah, beras jenis premium, dan beras khusus untuk daerah pesisir atau pasang surut air laut.

Dia menjelaskan, kini pasar beras semakin berkembang luas. Konsumen menghendaki beras jenis tertentu, tak sekadar beras biasa. Karenanya, keberadaan klaster itu penting untuk menjaga ketersediaan beras sesuai dengan permintaan pasar.

“Yang terbaru, kami bersama dengan petani di Kecamatan Patimuan untuk membangun pilot project untuk klaster beras dari jenis padi yang resisten salinitas tinggi. Luasannya 12 hektare,” ucapnya.

Dia menjelaskan, selama ini petani masih sekadar menanam padi, tanpa mempertimbangkan nilai jualnya. Yang diperhitungkan petani adalah hasil produksi tinggi, meski berharga rendah. Akibatnya, sebagian gabah petani berkualitas rendah.

“Memang tidak salah. Tapi, pasar beras jenis tertentu ini mestinya juga dimanfaatkan oleh petani,” ucapnya.

Dia mengemukakan, dalam pembangunan klaster beras ini, Desmantara bekerja sama dengan Pangku Instutute sebagai organiser di lapangan. Adapun untuk pembangunan pilot project, Desmantara menggandeng PT Mitra Desa Banyumas (MDB).

“Ada beberapa desa yang menjadi klaster beras tertentu. Di Cipari ada untuk beras organik. Kemudian di Banyumas, ada klaster beras Mentik Wangi,” jelasnya.

Dia pun menjamin, beras jenis lokal seperti Mentik Wangi, Raja Lele, beras merah, berharga lebih tinggi dibanding beras biasa. Dalam hal ini, petani sebagai penyedia, sedangkan Desmantara sebagai pemasarannya. Nilainya bahkan bisa lebih tinggi antara Rp1 juta hingga Rp 1,5 juta per ton beras.


Reporter: Ridlo Susanto

Editor: Ambar Adi


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *