Bangun Pariwisata di Tengah Pandemi

oleh -35 views

Dunia kepariwisataan di tanah air termasuk di kota wisata, Bukittinggi, sempat lesu untuk beberapa bulan terakhir, ulah mewabahnya Covid-19. Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias mengajak agar warga memberi dukungan kepada sektor pariwisata sehingga dapat membuka jalan dalam membangun kembali ekonomi.

“Membangkitkan pariwisata di tengah pandemi ini, yang penting bukan bagaimana kembali ke keadaan semula sesegera mungkin.  Tetapi apa langkah-langkah keamanan yang diperlukan agar wisatawan merasa aman saat berkunjung,” kata Ramlan, Jumat (12/6).

Tak bisa dipungkiri lanjutnya, sektor pariwisata mengalami dampak yang sangat buruk akibat pandemi virus Covid-19. Adanya pembatasan sosial hingga karantina wilayah membuat pelaku industri pariwisata gigit jari.

Menurutnya, sektor pariwisata merupakan hal yang komplit. Membangun tak cukup sampai pada destinasinya saja, melainkan perlu dukungan dari berbagai sektor, mulai dari transportasi, kuliner, perhotelan kebudayaan dan lain sebagainya.

“Di dalam kondisi Covid-19 ini, kita tidak inginkan pariwisata tertinggal dan lumpuh. Karena ekonomi Bukittinggi bersumber dari pariwisata dan perdagangan. Kalau tidak cepat digerakkan akan muncul persoalan sosial yang lebih berat,” bebernya.

Pariwisata Bukittinggi sendiri tambah Ramlan, telah dibuka kembali pada 30 Mei 2020 yang lalu. Pihaknya menggaransi persoalan aman dan kenyamanan wisatawan lewat SOP dan standar kesehatan Covid-19 yang disiapkan dan diterapkan saat berkunjung ke objek wisata di kotanya.

Diawali dengan melakukan rapid test ke seluruh petugas lapangan objek wisata dan karyawan hotel. Hal ini adalah untuk menjamin bahwa petugas baik di objek wisata dan di hotel sudah terjamin kesehatannya dari virus Covid-19.

Langkah untuk menimbulkan kepercayaan pengunjung ke Bukittinggi itu sempat digaungkannya dalam webinar bersama aktor pariwisata nasional, Kamis (11/6). Webinar bertajuk “Kesiapan Normal Baru Destinasi Wisata Indonesia” tersebut digelar Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Sumbar yang dimoderatori oleh Ketua Astindo DPD Sumbar, Nasirman Chan.

Ditegaskan, peran serta masyarakat menjadi kunci dalam membangun pariwisata di tengah pandemi ini. Menurutnya, kesehatan itu penting dan tidak ada yang tahu sampai kapan wabah akan selesai. Namun persoalan ekonomi dan sosial budaya juga harus menjadi perhatian.

“Kita juga tidak ingin larut dalam masalah ini. Kuncinya disiplin. Sepanjang masyarakat disiplin dengan standar kesehatan, pakai masker, mencuci tangan, manjaga jarak maka akan aman dan akan menimbulkan kepercayaan bagi tamu-tamu yang datang dari luar,” tegasnya.

Langkah berani Wali Kota Bukittinggi ini sempat diaperiasi oleh Sekjen DPP Astindo, Pauline Suharno dan Edwin Himna dari Tren Tour Yogyakarta saat webinar tersebut. Mereka mendukung optimisme Ramlan dalam upaya pemulihan kembali kepariwisataan di Bukittinggi dan kesiapannya menerima tamu dengan penerapan standar kesehatan Covid-19.

Sekaligus mengapresiasi upaya pembebasan pajak dan pemeriksaan kesehatan bagi petugas dan karyawan di bidang kepariwisatan serta langkah-langkah berani lainnya yang diambil dalam upaya pemulihan kembali ekonomi masyarakat di Bukittinggi.

Selain Wali Kota Bukittinggi, turut serta sebagai pembicara pada webinar berskala nasional itu, Kadis Pariwisata Sumbar Novrial, Wali Kota Padang Mahyeldi, Wali Kota Pariaman Genius Umar, Kadin Sumbar Aim Zein dan Edwin Himna dari  Tren Tour Yogyakarta, Pauline Suharno Sekjen DPP Astindo, Anton Thedy owner TX Travel, Josep Sugeng Irianto Rex Tour Bandung, Yongki Yanwintarko dari Sun Tour & Travel Jatim serta Hishamuddin Mustafa dari Tourism Malaysia

Sementara itu, Sam Salam sebagai designer virtual meeting tersebut mengatakan, pembukaan destinasi wisata di tiga daerah yakni Kota Padang, Bukittinggi, dan Pariaman diharapkan dapat menggerakan ekonomi masyarakat di daerah masing-masing. Karena tiga daerah tersebut sepakat melaksanakan protokol kesehatan dan menyosialisasikannya ke masyarakat, terutama pelaku usaha pariwisata.

Ia menambahkan, protokol kesehatan di objek pariwisata sangat memerlukan kedisiplinan semua stakeholder. Kenyamanan dan keamanan wisatawan harus mendapat jaminan dari masing-masing destinasi itu sediri. “Menjaga ’nama baik’ destinasi harus konsisten dilakukan agar peningkatan kunjungan lebih banyak lagi,” tuturnya.

Katanya, usaha Pemprov Sumbar menerapkan tes swab bagi para wisatawan di Bandara International Minangkabau (BIM), diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan ke destinasi yang ada di Sumatera Barat.

Menurut Sam Salam, “green wisatawan” belum menjamin meningkatkan kepercayaan wisatawan, kalau seandainya destinasi atau lokasi yang akan dikunjungi tidak bersih atau berada di zona merah Covid-19. Memang tidak mudah di lapangan mendapatkan kepercayaan wisatawan, namun butuh keoptimisan, dan melibatkan banyak pihak memikirkan pariwisata, sehingga membantu tingkat kunjungan wisatawan ke Sumbar.

“Diharapkan kerja sama Kadin dengan pemerintah dapat ditingkatkan, karena ’pemain’ pariwisata yang lebih tahu tantangan dan masalah yang dihadapi di lapangan,” ujarnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Pariaman berharap organisasi dan pelaku pariwisata Sumbar dan nasional membantu promosi pariwisata daerah tersebut. Wali Kota Pariaman Genius Umar mengatakan, destinasi wisata di Kota Pariaman sudah ditutup selama 3 bulan akibat pandemi Covid-19. Kondisi itu berimbas terhadap perekonomian masyarakat, sehingga muncul desakan agar pemerintah membuka kembali objek wisata.

“Sehari, saat objek wisata dibuka pada 8 Juni 2020, jumlah wisatawan ke Kota Pariaman langsung membludak sehingga pemerintah terpaksa membuat kebijakan dengan retribusi kepada setiap wisatawan yang memasuki pantai,” ujarnya.

Tujuannya untuk membatasi jumlah pengunjung dan juga ketertiban terhadap protokol Covid-19 serta untuk meningkatkan PAD. Ia beraharap, partisipasi seluruh organisasi dan pelaku pariwisata serta kamar Dagang Industri (Kadin) yang bergerak di bidang pariwisata, untuk mempromosikan kembali destinasi wisata Kota Pariaman yang sudah kembali dibuka.
Menurutnya seluruh pihak harus bahu membahu membangun pariwisata agar kembali menggeliat meskipun dalam situasi pandemi. “Terutama harus bisa beradaptasi dengan fase normal baru,” ujarnya.

Kota Pariaman memiliki banyak destinasi wisata yang patut dikunjungi seperti penakaran penyu, kawasan mangrove, Pantai Kata, Pantai Gandoriah dan wisata pulau- pulau. Semua objek wisata tersebut mampu membangkitkan ekonomi Kota Pariaman sehingga di PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Pariaman cukup tinggi.

Kemudian, pemerintah juga telah mengubah pulau-pulau sehingga menjadi destinasi wisata baik zonasi inti sebagai kawasan konservasi maupun zonasi yang bersifat terbuka. Pemko Pariaman ini juga mempromosikan Desa Wisata yang dikelola menggunakan Dana Desa.

“Dari 55 desa di Kota Pariaman, rata- rata memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bergerak di bidang pariwisata, ekonomi kreatif dan bidang pertanian,” ujar Genius.
Apalagi Kota Pariaman juga memiliki sekolah yang tidak dimiliki daerah manapun di Indonesia yakni Sekolah Tinggi Ilmu Beruk (STIB) di Desa Apar. Sekolah ini merupakan tempat pelatihan beruk agar bisa memanjat dan memetik kelapa.

Pessel Bangun Masjid Terapung
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), tengah mengembangkan konsep pariwisata halal dan pariwisata premium. Bupati Pessel, Hendrajoni menyebut, pemerintah daerah juga tengah membangun masjid terapung di Pantai Carocok, Painan. Sedangkan untuk mensinergikan antara konsep pariwisata halal dengan premium, daerah itu juga membangun jalan wisata yakni jalan lingkar Salido menuju objek wisata Pantai Carocok, dengan mengelilingi Bukit Langkisau.

“Keberadaan jalan ini juga akan menyatukan konsep wisata pantai dengan konsep wisata halal,” jelasnya. Keberadaan wisata halal dan premium itu nanti diyakini akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Pessel.

Pembangunan masjid di Kawasan Pantai Carocok, katanya, merupakan bukti Pemkab Pessel konsisten dengan pariwisata halal. Ia  berharap masjid terapung itu akan menjadi kebanggaan dan juga ikon pariwisata di Pessel. “Kami berharap pengunjung yang datang ke Pantai Carocok tidak terganggu kelancaran ibadahnya,” harap bupati.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR) Pessel, Era Sukma Munaf menjelaskan, pembangunan masjid terapung itu akan menghabiskan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp 27,5 miliar. “Pelaksanaan pembangunannya dilakukan secara multi years tahun 2019 dan 2020,” tukasnya. (p/nia/yon)

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *