Bangkrut Bertani Cabai, Ngudiono Bangkit Kembangkan Koktail Nanas

oleh -5 views

  • Senin, 10 Agustus 2020 | 15:25 WIB
  • Penulis:

KEGAGALAN bertani cabai, tak membuat Ngudiono patah semangat untuk terus mengembangkan usaha sektor pertanian. Sempat merugi puluhan juta rupiah karena anjloknya harga cabai, warga Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah ini mencoba bangkit lagi dengan membangun industri rumahan yang memroduksi koktail nanas madu. Misinya tak sekadar bisnis, tapi juga menampung hasil panen petani nanas di desanya.

Tahun 2006 silam, menjadi pelajaran berharga buat Ngudiono (41). Kala itu, ia mendapatkan pengalaman pahit saat hasil panen cabainya cuma dihargai Rp 1.200/ kilogramnya. Anjloknya harga cabai di pasaran sangat diluar dugaan, membuatnya kecewa bukan kepalang. Kerja kerasnya berpeluh keringat saat menggarap lahan pertanian, ternyata tidak sepadan dengan hasilnya. Petani cabai lain di desanya juga merasakan situasi serupa, kondisi demikian membuat bapak tiga anak ini merasa prihatin.

Melimpahnya hasil panen, membuat harga cabai terjun bebas, hingga Ngudiono merugi senilai Rp 30 juta. Menghadapi situasi sulit dan berat, ia tak ingin larut dalam kekecewaan berkepanjangan. Dia sadar harus menyiapkan mental baja, guna memulai hal baru yang akan dijalaninya. Beberapa tahun kemudian, ia sempat mencoba peruntungan jadi suplier logistik tapi kurang berkembang. Pada 2014, pria kelahiran Purbalingga, 26 Januari 1979 itu membuat keputusan besar dengan meninggalkan Jateng untuk mengadu nasib ke Kalimantan Tengah.

Dia kembali bertani, bukan menanam cabai melainkan kelapa sawit. Setahun di Kalimantan Tengah, ia juga merasakan kurang ada perkembangan dari hasil usaha tani kelapa sawitnya. Pada 2015 itu Ngudiono memutuskan pulang ke Purbalingga untuk jualan makanan dan es buah. Di desanya, ia melihat para petani mulai banyak mengembangkan nanas madu. Pria berpenampilan santun dan ramah ini melihat ada potensi besar mengolah nanas dengan karakter rasa manis dan asam yang banyak digemari masyarakat.

Industri Rumahan

Apalagi, nanas juga sudah banyak beredar di pasaran Jawa Tengah. Banyak ditemukan pedagang yang menjajakan nanas di pinggir jalan, termasuk di Kota Semarang. Di Kota Lunpia tersebut, nanas madu dihargai antara Rp 6 ribu hingga Rp 10 ribu/ buahnya, tergantung ukuran besar kecilnya. Hal ini menambah keyakinannya untuk mengembangkan potensi nanas. Kali ini, ia memilih tidak menjadi petani, tapi fokus membangun industri rumahan yang memroduksi koktail nanas.

Seperti kembali menemukan ruh menjalankan usaha sektor pertanian. Motivasinya tak sekadar mengembangkan industri rumahan, tapi membantu petani mengoptimalkan hasil panen nanas. Ia bercita-cita memperjuangkan hasil panen nanas para petani, supaya harganya tak jatuh seperti saat tanam cabai, beberapa tahun silam.

“Sebagai petani cabai, saya pernah merugi Rp 30 juta karena harga cabai saat itu hancur. Belakangan, ketika petani lain beralih menanam nanas madu, saya mengambil inisiatif membangun industri rumahan dengan mengolah nanas madu dari hasil panen petani,” tandas Ngudiono. Uji coba maupun eksperimen mengolah koktail nanas dilakukan berulang-ulang. Ini untuk menentukan rasa minuman manisan buah supaya pas dan terasa enak dilidah.

Minuman Khas

Mimpinya saat itu sepele, dia ingin koktail nanas yang dilabeli Nanas-Qu jadi minuman khas Purbalingga. Sekaligus bisa populer layaknya minuman manisan buah carica asal Dieng, Kabupaten Wonosobo. Layaknya orang berkunjung ke Dieng yang mengenal minuman carica-nya, Ngudiono ingin pengunjung wisata ke Purbalingga, mengenal koktail nanasnya. Uji coba koktail nanas berlangsung sekitar 18 bulan, hingga akhirnya Ngudiono memutuskan mulai produksi minuman manisan buah itu pada 2016.

Koktail nanas buatannya dikemas dalam cup plastik ukuran 120 ml dan 250 ml. Khususnya ukuran 120 ml, dijual paket kemasan isi enam seharga Rp 20 ribu, sedangkan 250 ml harga ecerannya Rp 7 ribu/ cup. Minumannya juga dipasarkan secara daring. Lambat laun, usahanya mengalami kemajuan dan semakin populer. Permintaan koktail nanas meningkat, minuman itu mulai dijual ke minimarket ternama, serta menyasar toko pusat oleh-oleh di Purbalingga.

Pemkab Purbalingga melihat potensi koktail nanas, lalu mengikutsertakan pada program Tuka-Tuku Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Dalam program pengembangan UMKM, Pemkab Purbalingga bekerja sama dengan marketplace Bukalapak, menggandeng pelaku usaha lokal memasarkan produknya secara daring. Koktail nanas semakin digemari, hal ini membuat hasil panen nanas yang dibeli dari petani Desa Siwarak, bertambah banyak.

Mitra Bisnis Petani

“Sehari bisa produksi 1.500 cup, tapi biasanya seminggu minimal dua kali, serta tergantung permintaan. Setiap produksi, saya membeli rata-rata 500 hingga 600 buah nanas dari hasil panen petani,” ungkap suami Yayan tersebut. Siapa pun petani nanas di desanya, dijadikan mitra bisnisnya. Secara bergiliran, para petani bisa menjual hasil panen ke industri rumahannya. Berdasarkan data, ada sekitar 600 hektare areal pertanian nanas madu di wilayahnya dengan jumlah petani penggarapnya 982 orang.

Dari areal pertanian nanas itu, hanya 400 hektare yang produktif ditanami buah tersebut. Siapa pun petani di desanya bisa jadi mitra kerjanya. Hingga kini, sudah ada ratusan petani yang menjual hasil panen ke industri rumahannya. Nanas kualitas baik alias grade A, dibeli Rp 3.700/ buah, sedangkan yang kualitasnya sedang dihargai Rp 3.400/buahnya. Menurut Ngudiono, tiap petani bisa memasok maupun menjual nanas antara 500- 600 buah ke industri rumahannya.

Berkembangnya koktail nanas juga membuat dirinya turut membantu memberdayakan perekonomian warga setempat. Setiap produksi, ia bisa menggandeng delapan orang warga membantu mengolah nanas. “Tenaga kerja yang membantu produksi koktail nanas itu ibu-ibu desa setempat, mereka berada di rumah saat suaminya yang mengadu nasib atau kerja di Jakarta. Ibu-ibu kerja sebagai tenaga harian dengan mendapatkan upah Rp 45 ribu per harinya,” tandasnya.

Sektor Pariwisata

Belakangan, koktail nanas juga mulai merambah sektor pariwisata. Dua lokasi wisata ternama di Purbalingga, Golaga dan Flower Garden sudah tertarik dan teken kontrak dengannya, untuk menjadikan koktail nanas sebagai minuman pembuka kala masuk obyek wisata. Setiap tiket terjual, pengunjung wisata mendapatkan koktail nanas gratis. Sayangnya, wabah Coronavirus Disease 19 (Covid-19) membuat kontrak itu tertunda.

Terlebih lagi, pengelola menutup obyek wisata untuk mencegah atau mengurangi risiko penularan virus Corona.  “Kontrak kerja koktail nanas sebagai (welcome drink) untuk mendukung sektor pariwisata sedianya sudah dilakuan, tapi terkendala masa pandemi Covid-19. Memang situasinya belum menentu, tapi sebelumnya koktail nanas juga sudah dijual di Golaga,” tandas bapak tiga anak tersebut. Pemasaran minuman itu pun telah menyasar berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan, Jateng, dan DKI Jakarta.

Pasar Ekspor

Sebagaimana diketahui, Desa Siwarak selama ini dikenal sentra penghasil nanas madu yang berkualitas. Berkas hasil kreativitas dan kerja keras menggarap lahan nanas, kelompok tani dan kreasi wanita tani desa Siwarak juga pernah menang juara I lomba buah tingkat Jateng pada 2015. Ngudiono menyadari, kualitas nanas madu di desanya yang sangat baik ini akan membantu upayanya membidik pasar ekspor. Sebelumnya, produk koktail nanasnya juga pernah dibawa sebagai oleh-oleh ke Arab Saudi maupun Amerika Serikat.

Dia mengaku pernah mendapatkan permintaan dari orang Jerman untuk membuat koktail nanas, tapi masih terkendala rasa. Uji produknya sudah lolos, tapi permintaan dari Jerman itu rasanya asam, tidak seperti koktailnya yang manis. Demi persiapan ekspor, minumannya kini juga mulai dirancang dalam kemasan kaleng. Perizinan kemasan kaleng ini mudah-mudahan bisa rampung tahun 2020. “Sebenarnya ada permintaan dari Taiwan sebanyak 1,3 juta koktail nanas, tapi belum bisa dipenuhi karena belum siap,” ungkapnya.

Ngudiono mengaku kewalahan memenuhi permintaan yang begitu banyak, tapi dalam tempo singkat. Terlebih lagi, kemasan minuman juga dalam botol kaca, bukan plastik sebagaimana produksinya. Terhadap permintaan dari Taiwan, pihaknya sempat berkoordinasi dengan Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Yogyakarta yang jadi salah satu pendamping usahanya. Pasar ekspor kedepan masih akan terbuka lebar, sehingga ia harus menyiapkan produknya agar bisa layak go internasional.
Mengolah Nanas

Pihaknya menjelaskan, LIPI memintanya tidak terburu-buru, dengan tetap menjaga komunikasi dengan pembeli. Hal itu penting supaya kedepan kalau ada permintaan lagi bisa siap menjelajahi pasar ekspor. Kreativitas Ngudiono dalam mengolah nanas sebenarnya tidak sebatas koktail, yang paling nge-hits dan pernah dipromosikan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo lewat akun media sosialnya. Dari buah tersebut, nanas mampu diolahnya jadi berbagai produk. Selain koktail, ada dodol, roti, manisan, kerupuk, dan nata de pina (olahan semacam nata de coco).

Nanas ditangan Ngudiono, seluruh bagian buah jadi sesuatu yang bermanfaat serta tidak ada yang terbuang. Bagian buahnya bisa dibuat koktail, dodol, dan roti. Kulitnya yang biasa tidak dipakai, dimanfaatkan sebagai bahan nata de pina. Pucuk nanas dicacah buat pakan ternak, sedangkan sisanya dibuat pupuk kompos. Keberadaan koktail nanasnya juga menarik perhatian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Semarang (Unnes) untuk melakukan pendampingan usahanya.

Ngudiono jadi salah satu tenan atau peserta inkubasi dari LPPM Unnes, atas fasilitasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi / Kemenristekdikti pada 2019. Eksistensi koktail nanas menjadi hal yang positif bagi petani. Salah satunya Toyib, petani nanas madu yang beberapa kali menjual hasil panennya ke Ngudiono. “Mudah-mudahan usaha koktail nanas madu bisa berkembang, sehingga petani di Desa Siwarak bisa buah dengan harga stabil,” jelasnya.

Kadang, Toyib memberi secara cuma-cuma nanas madu berukuran kerdil atau masak sebelum waktunya. Nanas itu biasanya dibuang, karena diberikan ke tetangga pun tidak layak. Namun, ditangan Ngudiono bisa dimanfaatkan, sehingga ramah lingkungan. Tidak ada limbah nanas yang dibuang percuma.


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *