Aramco Tolak Kilang RI Tapi Pilih Korea & Malaysia, Kok Bisa?

oleh -39 views

Jakarta, CNBC Indonesia – Membangun kilang di RI tidak mudah, banyak kendala yang ditemui, mulai dari partner yang putus hingga isu mafia migas. Inikah yang membuat Indonesia kesusahan mencari investor kilang?

Menanggapi hal ini, Praktisi migas dari Bimasena Energy Team yang juga Eks Bos Pertamina Ari Soemarno mengatakan rekonsiliasi adalah jalan satu-satunya mencari akar permasalahan pembangunan kilang.

Ia mengatakan bisnis kilang tidak mudah selama keekonomian jelek. Dibutuhkan investasi besar untuk membangun kilang antara US$ 6-10 miliar, sehingga perlu pembiayaan jangka panjang. Permasalahan yang dihadapi dalam membangun kilang bukanlah hal baru, sehingga semua pihak perlu duduk bersama untuk mencari permasalahanya.

Ia menekankan jangan menganggap ini semua menjadi urusan Pertamina, namun antara pengambil keputusan, ESDM, BUMN, dan kementerian terkait lainnya harus duduk bersama.

“Itu mbok direkonsiliasi, dilihat gimana nih harus punya helikopter view ya melihat semua. Kondisi lingkungan usaha seperti apa, pasar seperti apa, investasi gimana,” jelasnya.

Seperti diketahui PT Pertamina (Persero) sudah memutuskan akan mengembangkan Kilang Cilacap tanpa Saudi Aramco. Terkait hal ini, Ari sangat menyayangkan, pasalnya Aramco adalah partner yang sangat strategis dan berpengalaman.

Ia mencontohkan beberapa negara lain bisa sukses melakukan lobi-lobi dengan Aramco hingga akhirnya deal untuk invetasi.

Misalnya saja Malaysia, China, dan Korea. “Bagi saya investor selalu nyari yang bisa jamin investasinya. Dia punya standar investasi, misal saya investasi harus ada pengembalian rate of return sekian. Pertamina punya stanadar yang sama kalau saya investasi saya harus punya pengembalian investasi berapa,” tegasnya.

Ari mempertanyakan kenapa valuasi nilai ini bisa tidak ketemu. Hal ini yang perlu dievaluasi apa yang menyebabkan. Jika melihat Aramco yang mau investasi di negara lain, mestinya di Indonesia mau juga.

“Nggak bisa dong, kalau valuasi saya yang  paling bener you harus nyampe ini ya nggak bakal ketemu. Bagaimana cara mempertemukan, apa yang menghambat selama ini. Semua harus terbuka, termasuk Pertamina,” paparnya.

Ia kembali menegaskan agar pemerintah beserta Pertamina duduk bersama dan membuat buku putih terkait proyek. Apa saja kendala dan jalan keluar terkait dengan permasalahan inveastasi kilang yang sudah menjadi masalah bertahun-tahun. Identifiksi satu per satu permasalahan dan jalan keluarnya.

“Kalau enggak semua akan bilang mafia, saya bingung ya kan dari segi keekonomian murni ngapain kita bikin kilang ngapain invetasi gede-gede lebih untung beli. Tapi kemudian kita bilang kita perlu nih bikin sendiri karena kita pengen sekuritas enegri kita,” tuturnya.

“Saya yakin ini salah satu kondisi Aramco di sini, minta margin dijamin. Saya kasih diskon minyak saya karena you ngolah minyak saya, kasih diskon US$ 3-4, itu saja sudah ada tambahan margin, ini dari segi produsen,” katanya.

Hal yang sama juga Aramco lakukan di China, mereka meminta ada jaminan investasi kembali. Ia mengambil contoh harga BBM di Indonesia yang tidak turun saat ini, namun masyarakat masih bisa beli dan keuntungan dinikmati Pertamina.

“Kenapa kita nggak begitu saja untuk bangun kilang, buat kasih proteksi produk kilang baru yang akan diberikan di sini. Malah orang cenderung ke publik transportation, kita maunya apa, makanya dalam buku putih itu semua harus masuk,” jelasnya.

Jika tidak dipetakan dengan baik, lagi-lagi ia mengatakan akan ada pihak-pihak yang menyebut keberadaan mafia biang kerok ini semua. Terlepas dari pandemi Covid-19 nyatanya invetasi Aramco di Malaysia, China, dan Korea jalan.

“Saya selalu bilang kita usahain supaya jadi karena kalau sudah putus dengan Saudi Aramco saya yakin partner lain gimana ya, sama Aramco aja bisa putus ya kan,” tegasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Aramco adalah perusahaan minyak terbesar, crudenya bisa dijamin sampai 100 tahun pun. Ari kembali menyesalkan karena invetasi di Malaysia US$ 7,5 miliar, sementara di Indonesia tidak sampai US$ 6 miliar, ditambah Pertamina memberikan jaminan pasar. “Kok nggak mau, bingung saya.”

Bahkan presiden sudah turun tangan memberikan semua dorongan sampai bertemu dengan Raja Salman. Upaya kerjasama sama dengan Aramco sudah berjalan selama empat tahun dan akhirnya batal. Ia menyarankan jika mencari partner harus yang punya reputasi bagus. “Yang reputasi bagus saja nggak bisa.”

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *