5 Fakta Fenomena “Salju” di Dieng, Muncul di Musim Kemarau

oleh -40 views

5 Fakta Fenomena
Embun es di Dieng. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com – Dieng dikenal dengan julukan Negeri di Atas Awan. Kawasan itu terkenal di kalangan wisatawan karena banyak hal yang menarik mulai dari budaya masyarakatnya, hasil pertaniannya, keindahan pemandangan alamnya, serta fenomena unik yang kerap kali terjadi di sana. Salah satu fenomena yang unik di Dieng adalah “salju” yang beberapa kali terjadi di kawasan itu.

Kemunculan “salju” atau embun es di Dieng selalu ditunggu wisatawan. Kemunculannya selalu disusul dengan naiknya tingkat kunjungan dan penuhnya penginapan-penginapan di sana. Namun ternyata kemunculan embun es itu bak dua sisi mata uang bagi masyarakat Dieng.

Di satu sisi, kemunculannya bisa menjadi daya tarik wisatawan, namun di sisi lain kemunculannya menjadi musibah bagi para petani karena bisa menyebabkan kematian tanaman.

1 dari 5 halaman

Kemunculan Embun Es di Dieng

embun es di dieng

©2019 Merdeka.com

Kemunculan embun es di Dieng untuk pertama kalinya tahun 2020 terjadi pada Jumat pagi (12/6). Pada saat itu, embun es dilaporkan muncul di pelataran Candi Arjuna, Dieng.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kemunculan embun es ini disambut gegap gempita oleh para warga karena biasanya akan disusul dengan meningkatnya kunjungan wisata. Namun sayang, seluruh obyek wisata di sana masih ditutup karena merebaknya pandemi COVID-19.

Menurut Slamet Budiono, Kepala Desa Dieng Kulon, kemunculan embun es itu diperkirakan bukan yang terakhir. Menurutnya, embun es diperkirakan akan muncul hingga Bulan Agustus.

“Bahkan kalau kemarau panjang embun es bisa muncul sampai September,” kata Slamet dikutip dari Liputan6.com, Minggu (14/6).

2 dari 5 halaman

Terjadi Saat Musim Kemarau

menyelimuti dieng

©2019 Merdeka.com/Liputan6.com

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara, Setyoajie Prayodie mengatakan fenomena embun es di Dieng merupakan fenomena yang lazim terjadi di daerah yang memiliki ketinggian di atas 2.000 mdpl. Periode kemunculannya di antara Bulan Mei-Agustus saat musim kemarau sedang berlangsung.

“Hal ini mengakibatkan sedikitnya uap air yang terbentuk meskipun hanya sedikit yang berkurang dari kondisi normal,” terang Setyoajie.

3 dari 5 halaman

Proses Terjadinya Embun Es

 

embun es di dieng

©2020 liputan6.com

Dilansir dari Ilmugeografi.com, fenomena embun es di Dieng terjadi karena molekul udara di dataran tinggi lebih cepat mengalami pendinginan dibandingkan dengan di dataran rendah, khususnya saat langit cerah atau tidak berawan.

Saat cuaca cerah, pada malam hari uap air yang berada di udara mengalami kondensasi. Kondensasi atau perubahan wujud itu membuat uap air itu berubah menjadi embun yang menempel di rumput, daun, atau tanah.

Ketika suhu mengalami penurunan hingga ke titik beku, embun yang menempel di tanah itu kemudian berubah menjadi es atau salju. Embun es ini akan muncul di pagi hari pada pukul 05.00-06.00 sampai matahari terbit.

4 dari 5 halaman

Mendongkrak Kunjungan Wisatawan

embun es di dieng

©Ilmugeografi.com

Pada tahun 2019, fenomena embun es di Dieng sempat menjadi viral di media sosial. Karena itulah kemudian banyak wisatawan yang datang berkunjung. Padahal pada tahun itu, kunjungan ke Dieng sempat menurun drastis pada saat akhir libur Lebaran.

Fortuna Dyah Setyowati, ketua paguyuban penginapan di Dieng mengatakan dengan adanya embun es itu, banyak wisatawan luar daerah yang ingin menyaksikannya langsung. Fortuna menceritakan, sejak viral di dunia maya pada tahun itu, tingkat hunian di Dieng terus merangkak naik.

“Ya kalau seperti ini sih, Alhamdulillah ya. Kan otomatis banyak yang bikin status kemudian diviralkan di Facebook. Itu biasanya banyak wisatawan yang datang,” kata Fortuna.

5 dari 5 halaman

Merugikan Petani

embun es di dieng

©Ilmugeografi.com

Munculnya embun es di Dieng memang menjadi daya tarik wisatawan, namun di sisi lain, sangat merugikan petani. Walaupun terlihat indah, embun es itu bisa membuat tanaman yang terkena akan layu dan menguning setelah es tersebut mencair.

Bagi para petani kentang di Dieng, embun es itu sangat merugikan karena menyebabkan kentang yang ditanam menjadi cepat busuk.
Oleh karenanya, masyarakat setempat menyebut fenomena embun es itu dengan nama “bun upas” atau embun beracun.

“Kalau embun es-nya sampai tebal, tanaman kentang bisa mati.” Kata Slamet.

[shr]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *